TAIPAN

Bosan Kerja Tuntun Karsanbhai Patel Jadi Orang Kaya di India

Agus Triyono, CNN Indonesia | Minggu, 02/02/2020 09:55 WIB
Bosan Kerja Tuntun Karsanbhai Patel Jadi Orang Kaya di India Karsanbhai Patel orang kaya India yang berawal dari jualan detergen dari rumah ke rumah. (Dok. Nirma University)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kebosanan dalam bekerja mungkin telah menjadi jalan bagi Karsanbhai Patel menjadi salah satu taipan di India. Bagaimana tidak? 

Karena bosan itu, ia kemudian berhasil menjadi orang kaya. Forbes menempatkan Karshanbai menjadi orang terkaya sejagat nomor 394 dengan total nilai kekayaan US$4,7 miliar.

Cerita bermula pada 1960-an lalu. Saat itu, pria yang merupakan anak petani Gujarat tersebut bekerja menjadi ahli kimia di Gujarat Minerals Development Corporation.


Gaji yang ia terima dari pekerjaannya tersebut Rs.400/-. Ia merasa gaji tersebut tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Atas kondisi itulah, ia memutuskan mencari kerjaan sampingan. Berbekal gelar sarjana kimia dan pengalaman melakukan percobaan, ia mencoba meracik bubuk detergen di rumahnya. 

Sambil berangkat dan pulang kantor yang jaraknya 15 kilometer dari rumah, ia jual detergen tersebut dari rumah ke rumah dengan sepeda.

Upayanya membuahkan hasil. Patel mampu menjual 15 sampai dengan 20 paket sehari. Maklum, pada 1969 pasar detergen bubuk domestik di India cukup sedikit. 

Adanya, perusahaan multinasional seperti Hindustan Unilever yang harga jual produknya Rs.15 per kilogram. Harga tersebut jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan produk sabun cuci Karsanbhai yang hanya seharga 3 Rupee 50 Paise per kilogram.

[Gambas:Video CNN]
Produk Karsanbhai membuat kelas menengah sangat senang karena harganya yang luar biasa murah dan berkualitas. Peluang tersebut tidak ia tidak sia-siakan.

Pada tahun ketiga, ia memutuskan untuk berhenti kerja sebagai seorang ahli kimia di Gujarat Minerals Development Corporation dan fokus kepada bisnisnya. Ia membuka toko kecil di Ahmadabad di negara bagian Gujarat.

Berbekal Nama Anak yang Meninggal

Dari sini produk ini menyebar seperti api. Berbekal merk Nirma, nama putrinya yang meninggal karena kecelakaan mobil, detergen yang ia buat laku keras di pasaran.

Karena harganya yang murah dan informasi dari mulut ke mulut, Karsanbhai mendapatkan semakin banyak pelanggan. Pada 1980, detergen Nirma telah menjadi salah satu produk rumah tangga paling populer di banyak bagian negara ini.

Kinerja Nirma selama dekade 1980-an telah dilabeli sebagai 'Marketing Miracle' dari suatu era. Selama periode ini, merek melonjak jauh di depan saingan terdekatnya - Surf, yang merupakan produk detergen mapan oleh Hindustan Lever.

Nirma benar-benar merebut pangsa pasar dengan menawarkan bauran pemasaran berbasis nilai dari empat P, yaitu pasangan produk, harga, tempat, dan promosi yang sempurna.


Pada era 1990-an produk tersebut kian berkibar. Berkat iklan dan jingle yang menarik, popularitas Nirma kian melejit. Tak hanya itu, produk Nirma juga kian berkembang.

Jika pada awal masa usaha, Nirma hanya terbatas pada detergen seiring dengan perkembangan produk mulai diperluas ke sabun mandi, garam dapur, sabun pencuci piring dan produk kecantikan. 

Produk tersebut berhasil menguasai India. Pada 2000-an, pangsa pasar produk sabun toilet Nirma mencapai 15 persen. Sementara itu untuk detergen, tingkat penguasaan pasar Nirma di India sudah mencapai 30 persen. 

Pada 2004 penjualan tahunan Nirma menyentuh 800 ribu ton. Penjualan tersebut menjadi volume terbesar penjualan satu nama merek di dunia.

Atas keberhasilan tersebut, industri sabun rumahan yang tadinya hanya dikerjakan satu orang dan tidak menggunakan tenaga motif maupun permesinan yang canggih bermetamorfosis menjadi sebuah kerajaan bisnis raksasa. Saat ini diperkirakan omset penjualan perusahaan naik tajam. 

Tingkat pendapatan perusahaan sudah mencapai US$842 miliar pada 2017 lalu. Sementara itu untuk pendapatan bersih mencapai US$67 miliar pada tahun yang sama. 

Perusahaan saat ini juga sudah mempekerjakan lebih dari 14 ribu orang di kerajaan bisnisnya. Produknya juga berhasil menggeser ketenaran sabun cuci global buatan pabrikan seperti Unilever dan Proctor Gamble. 

Tak hanya berhenti di bisnis detergen, Nirma juga mulai merambah bisnis lain. Pada 2016 lalu, mereka memutuskan untuk membeli saham perusahaan semen asal Prancis, yang beroperasi di India, Lafarge dengan nilai transaksi US$1,6 miliar. 

Tak hanya itu, Karsanbhai Patel juga melebarkan sayap usahanya ke sektor pendidikan. Pada 1995 lalu, ia mendirikan Institut Teknologi Nirma, diikuti  Universitas Sains dan Teknologi Nirma 8 tahun setelahnya.

Lembaga pendidikan tersebut diawasi oleh Yayasan Pendidikan dan Penelitian Nirma. Pada tahun 2004, ia meluncurkan proyek pendidikan Nirmalab, yang bertujuan melatih dan menginkubasi pengusaha di India. Pada 2010, Karsanbhai Patel dianugerahi dengan Padma Shri.

Penghargaan diberikan karena ia dianggap berkontribusi besar pada bidang pendidikan. 

Strategi Harga Murah

Karshanbai bercerita kesuksesan hidupnya tersebut tak lepas dari kerja keras yang dijalankannya. Selain itu, keberhasilan juga ditunjang oleh keberhasilannya dalam menemukan segmen pasar besar yang haus akan produk berkualitas bagus dengan harga terjangkau. 

Kesuksesan juga tak terlepas dari strategi bisnis yang dijalankannya. Ia menerapkan strategi menjual produk dengan harga murah. Keuntungan banyak ia dapatkan dari penjualan besar-besaran yang terjadi akibat harga yang murah tadi. 

Strategi menjual produk dengan harga murah ia bisa jalankan karena hampir 90 persen soda abu yang merupakan bahan utama pembuatan detergen Nirma dibuat perusahaannya sendiri.


(agt)