Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Bidang Perdagangan Benny Sutrisno mengatakan jumlah pasokan bisa saja tak mencukupi permintaan pasar. Alhasil, harga barang berisiko terkerek.
"Betul (akan mempengaruhi harga). Ada persoalan pasokan dan permintaan," ucap Benny kepada CNNIndonesia.com, Selasa (4/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Cek dan bicara dengan pengusaha dulu. Biasanya pemerintah hanya tahu sampai makro tapi pengusaha paham sampai dengan bagian mikro," jelas Benny.
Sependapat, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menyatakan pemerintah perlu memberikan waktu kepada pengusaha untuk memastikan ketersediaan pasokan agar tak terjadi kekurangan pangan di pasar. Jika tidak diberikan waktu, otomatis bakal ada lonjakan harga.
Shinta bilang produk pangan yang biasa diimpor dari China, antara lain buah-buahan dan sayuran seperti apel, anggur, jeruk, dan bawang. Ia memproyeksi pembatasan impor ini khususnya akan berdampak pada industri makanan dan minuman (mamin) dan ritel.
"Nanti dampaknya kepada industri mamin dan kemungkinan besar yang akan kesulitan sektor ritel karena biasanya buah dan sayuran impor langsung didistribusikan ke konsumen," ujar Shinta.
Namun, Shinta bilang pihaknya masih harus melihat reaksi pasar setelah aturan pembatasan impor dari China diberlakukan oleh pemerintah. Jika memang tidak kondusif, dia menyarankan pemerintah hanya mengimbau saja, tetapi tak melarang impor dari China.
Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyatakan pemerintah akan membatasi impor asal Negeri Tirai Bambu di tengah penyebaran wabah Virus Corona.
Pemerintah akan segera merilis daftar komoditas apa saja yang impornya akan dibatasi hari ini.
Ia meyakinkan pembatasan impor tersebut nantinya tidak akan berdampak kepada ekonomi dalam negeri. Pasalnya, pembatasan yang dilakukan kemungkinan tidak banyak.
[Gambas:Video CNN]
"Mesin tentunya tidak terkena dampak. Mungkin yang perlu kita perhatikan impor mengenai live animal," katanya.
Selain hewan, untuk pangan Suhariyanto mengatakan potensi pembatasan kemungkinan akan dilakukan pada impor buah-buahan dan sayur-sayuran. Bahan pangan tersebut merupakan produk makanan yang paling banyak diimpor.