TAIPAN

Dunia Fesyen Buat Tadashi Yanai Jadi Orang Terkaya di Jepang

Agnes Savithri, CNN Indonesia | Minggu, 09/02/2020 10:37 WIB
Tadashi Yanai menjadi orang terkaya di Jepang setelah berhasil membawa perusahaan fesyen miliknya mendunia. Tadashi Yanai menjadi orang terkaya di Jepang setelah berhasil membawa perusahaan fesyen miliknya mendunia. (Sajjad HUSSAIN / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Setelah selesai mengenyam pendidikan politik di Universitas Waseda pada 1971, Tadashi Yanai memutuskan untuk berbelok menjadi 'penjahit' dan tidak ingin menjadi politikus.

Keputusan puluhan tahun silam tersebut, tampaknya merupakan keputusan terbaik Yanai. Jika saat itu Yanai melakoni apa yang telah dia pelajari di bangku kuliah, mungkin saat ini dia tidak akan menjadi orang terkaya di Jepang.

Bisnis fesyen yang dia rintis pada 1984 berhasil menghantarkan Yanai menjadi orang terkaya nomor 1 di Jepang.

Dikutip dari Forbes, Yanai menduduki posisi nomor 1 di Jepang pada 2019 dengan total kekayaan sebanyak US$24,9 miliar. Sementara di deretan orang kaya dunia, Yanai berada di posisi 41. Raksasa ritel fesyen dunia Uniqlo menjadi sumber terbesar kekayaan Yanai.

Setelah lulus dari universitas bergengsi pada 1971, Yanai memutuskan untuk bekerja di sebuah supermarket bernama Jusco.

Awalnya dia enggan untuk membantu bisnis penjahit milik keluarganya. Namun, akhirnya Yanai pulang dan membantu mengelola bisnis jas dan dasi milik ayahnya tersebut.

Dari situlah insting fesyen Yanai mulai terasah. Akhirnya, pada 1984 Yanai meluncurkan toko pakaian pertama miliknya.

Berlokasi di Hiroshima, Yanai menamai tokonya Unique Clothing Warehouse. Selang satu tahun, Yanai mulai menambah cabang tokonya.

Dia mengubah nama tokonya menjadi Uniqlo. Dikutip dari MoneyWeek, Yanai mengisahkan konsep awal Uniqlo.

Saat era 1980an, Yanai terinspirasi salah satu merek favoritnya yakni M&S (Marks & Spencer). Toko pakaian tersebut menghadirkan koleksi busana basic untuk semua kalangan, dari mulai miliuner hingga pekerja biasa.

Konsep itulah yang dia bawa untuk menghidupkan Uniqlo. Konsep pakaian basic masih menjadi guideline Uniqlo hingga saat ini.

Kepada Japan Forward, Yanai mengisahkan 'evolusi' dalam usaha yang dia rintis.

"Pada 1991, saya mengumpulkan semua karyawan di kantor pusat. Saat itu, kami memiliki 29 toko dan saya mengumumkan akan mengganti nama perusahaan menjadi Fast Retailing," kisahnya.

Yanai pun berambisi akan memperluas jaringan toko miliknya dengan menambah 30 cabang setiap tahun dan memiliki 100 toko dalam 3 tahun. Dia pun berencana untuk IPO jika bisa mencapai target tersebut.

"Saat itulah, saya sendiri berubah dari pedagang menjadi wirausaha," kenangnya.

Bahkan, rencana IPO pun berhasil Yanai wujudkan 3 tahun setelah dia melakukan perubahan nama. Tepatnya pada 1994, Fast Retail mencatatkan saham di Bursa Efek Hiroshima. Hingga saat ini, Yanai dan keluarga menguasai 44 persen saham Fast Retail.

Setelah berhasil melantai di bursa, 7 tahun kemudian yakni 2001 Uniqlo membuka gerai pertamanya di luar pasar Jepang.

Pada 2001, Yanai resmi memasuki pasar ritel fesyen di London Inggris. Dan terus melebarkan sayap ke seluruh dunia dari mulai Amerika Serikat, China hingga Indonesia.

Per 2018, Uniqlo telah memiliki 1.241 toko yang tersebar di seluruh dunia.


Ambisi Jadi Nomor Satu Dunia

Di usia yang sudah menginjak kepala 7, tampaknya belum menyurutkan semangat Yanai untuk berbisnis. Pada akhir 2019 lalu, Yanai mengumumkan untuk mundur dari SoftBank Group.

Perusahaan yang didirikan oleh orang kedua terkaya di Jepang, Masayoshi Son. Di perusahaan tersebut, Yanai merupakan anggota dewan independen.

Setelah 18 tahun bergabung dengan SoftBank, Yanai mundur dengan alasan fokus pada bisnis fesyennya.

Tak heran Yanai ingin fokus pada 'anaknya' tersebut. Yanai memiliki ambisi untuk menjadi brand ritel fesyen nomor 1 dunia.

Saat ini, Uniqlo berada di posisi ke 3. Dua brand teratas diduduki oleh jaringan ritel Zara dan H&M. Tak tanggung-tanggung, Yanai menargetkan penjualan pada 2020 mencapai US$74 miliar.

Sebagai informasi, Fast Retailing memiliki beberapa label fesyen selain Uniqlo yakni Helmut Lang, J Brand, Theory dan beberapa label lainnya.

Yanai pun sedang mempersiapkan pucuk pimpinan Fast Retail yang baru. Dia mengungkap CEO Fast Retail akan lebih cocok jika ditempati oleh perempuan.

Menurutnya, perempuan memiliki sifat bawaan gigih, berorientasi pada detail dan memiliki rasa estetika. Langkah tersebut sudah mulai diimplementasikan pada jajaran direksi yang saat ini diisi 30 persen perempuan.

Sejumlah nama pun mulai dikabarkan akan mencalonkan diri untuk jadi 'Bos Uniqlo'. Khalayak pun menanti siapa penerus yang akan bergabung dengan 'kerajaan' ritel dengan laba operasional pada 2019 mencapai US$2,3 miliar.

"Saya ingin menjadikan Fast Retail sebagai bisnis yang disegani oleh dunia. Jadi kami harus memastikan produksi garmen yang sangat baik," pungkasnya dikutip dari Bloomberg.

[Gambas:Video CNN]


(age/age)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK