Bos Bappenas Ungkap Skenario Ekonomi RI Jika Trump Kalah

CNN Indonesia | Senin, 24/02/2020 16:20 WIB
Bos Bappenas Ungkap Skenario Ekonomi RI Jika Trump Kalah Bappenas menyebut ekonomi RI bisa kembali tertekan bila Donald Trump terpilih jadi presiden AS lagi. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Badan Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Suharso Monoarfa mengungkap skenario pertumbuhan ekonomi RI jika Donald Trump terpilih lagi pada pemilihan presiden AS 2020 mendatang.

Ia mengungkap pemilihan presiden AS menjadi salah satu faktor penentu akan laju perekonomian Indonesia. Jika Donald Trump menang dalam pilpres November mendatang maka pihaknya memperkirakan perekonomian nasional akan kembali terkoreksi.

Sebaliknya, jika Trump tak terpilih, ekonomi RI bisa meningkat lagi.


"Kami (Bappenas) mendiagnosa kira-kira seperti ini: apabila Donald Trump tidak terpilih maka pertumbuhan ekonomi diperkirakan meningkat. Jadi berdoa saja (Donald Trump) enggak terpilih," ucapnya pada Kick Off Meeting Rencana Kerja Pemerintah 2021.


Suharso menyebut perkiraan tersebut dibuat Bappenas berdasarkan hubungan strategis global 2021. Sebab Rencana Kerja Pemerintah erat hubungannya dengan perkembangan politik internasional.

Dia mengatakan diagnosa juga dibuat dengan melihat kebijakan populis dan protektif Trump selama ini. Kebijakan tersebut berpotensi dilanjutkan Trump ketika terpilih lagi.

Kebijakan tersebut bisa menjadi pemicu perlambatan ekonomi dunia.

"Dia (Donald Trump) tidak terbuka, dan menggunakan instrumen GSP sedemikian rupa sehingga mudah sekali menekan mitra dagangnya," ujar Sunarso Senin, (24/2).

[Gambas:Video CNN]

Dia mengatakan jika kebijakan yang diambil Trump lebih fleksibel dengan mitra dagang internasional, diagnosa Bappenas dapat dihindari.

Selain hasil pemilihan presiden AS, Suharso menyebut, faktor lain yang juga bisa mempengaruhi  pertumbuhan ekonomi RI 2020. Faktor tersebut adalah perang dagang antara AS dan China.

Selain itu, menurutnya, penyebaran virus corona yang belum kunjung mereda juga dapat menyerang pertumbuhan ekonomi yang tahun ini ditargetkan tumbuh di angka 5,3 persen.

(wel/agt)