Badan Ketahanan Pangan Ajukan Impor Gula Pasir 130 Ribu Ton

CNN Indonesia | Kamis, 27/02/2020 18:23 WIB
BKP Kementan mengajukan impor gula pasir sebesar Rp130 ribu ton dari India untuk menjaga stok dalam negeri. BKP Kementan mengajukan impor gula kristal putih sebesar 130 ribu ton. Ilustrasi. (Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian (Kementan) mengusulkan impor gula pasir konsumsi atau Gula Kristal Putih (GKP) sebesar 130 ribu ton. Rencananya, impor dilakukan melalui kesepakatan dagang atau barter produk kelapa sawit dengan India.

Kepala BKP Agung Hendriadi mengungkap pengajuan impor tersebut dilakukan untuk menjaga stok dalam negeri. Sebab, masa giling tebu terlambat pada tahun ini.

Sebagai catatan, masa giling tebu biasanya dilakukan pada Mei. Sementara, tahun ini baru akan dilakukan pada Juni atau Juli karena kemarau menyebabkan masa tanam mundur.


"Kami sudah mengajukan impor baru sebesar 130 ribu ton dari India. Kami barter dengan akses sawit," jelasnya pada Kamis (27/2).

Usulan tersebut, sambungnya, baru akan dibahas dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) pada Mei 2020 mendatang.

Terkait stok GKP jelang ramadan dan lebaran, Agung memastikan masih stabil.

Berdasarkan data Kamar Dagang Indonesia (Kadin), gula pasir merupakan komoditas yang kebutuhannya belum dapat dipenuhi produksi dalam negeri alias sebagian masih impor.

Ketua Komite Tetap Kadin Indonesia Franciscus Welirang menyebut kegagalan tersebut disebabkan oleh sasaran kebijakan ketahanan pangan pemerintah yang tidak fokus.

Franciscus berharap pemerintah tak hanya menyalahkan iklim sebagai faktor penghambat namun juga dapat menghasilkan kebijakan yang dapat menopang ketersediaan komoditas gula pasir.

Menurut ia, pemerintah patut belajar dari negara luar seperti Australia yang berhasil keluar dari jeratan impor. Sebagai catatan, Australia beberapa waktu lalu masih bergantung pada impor gandum tetapi kini telah mampu mengekspor ke negara lain.

Sebelumnya, wacana dibukanya keran impor gula konsumsi sebanyak 200 ribu ton diungkapkan oleh Menteri Perdagangan Agus Suparmanto. Dia mengatakan kajian dilakukan dengan melibatkan banyak pihak.

"Semua itu kan berdasarkan rakortas, jadi sesuai rakortas nanti dikeluarkan. Kami tidak serta merta keluarkan (izin) karena harus ada koordinasi dengan kementerian lain supaya akurasinya tepat sasaran," ungkap Agus, Rabu (19/2).

Dia meyakinkan petani tidak akan diganggu impor gula konsumsi. Untuk itu, Agus bakal memastikan harga jual gula impor tak akan lebih murah dari harga produksi lokal.

[Gambas:Video CNN]

(sfr/sfr)