EDUKASI KEUANGAN

Mencungkil Untung dari Investasi Saham Saat Pasar Terkapar

ARA, CNN Indonesia | Sabtu, 14/03/2020 10:27 WIB
Mencungkil Untung dari Investasi Saham Saat Pasar Terkapar Investor bisa mendapatkan untung besar dari pelemahan IHSG belakangan ini. Tapi perlu trik dalam berinvestasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pasar saham dalam negeri tertekan hebat oleh penyebaran wabah virus corona belakangan ini. Akibat tekanan tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bahkan sempat terjun ke posisi 4.895 pada Kamis (12/3) kemarin hingga Bursa Efek Indonesia (BEI) memutuskan untuk menghentikan sementara perdagangan saham.

RTI Infokom mencatat, IHSG anjlok 13,17 persen dalam sepekan terakhir atau 16,62 persen dalam sebulan terakhir. Kejatuhan IHSG itu merupakan yang terparah dalam empat tahun terakhir.

Dalam kondisi normal, biasanya investor saham menggunakan teknik membeli saat harga rendah dan menjual ketika harga sedang naik untuk meraup untung. Namun, di kondisi saat ini, investor banyak yang berpikir dua kali untuk menggunakan strategi tersebut karena pergerakan saham penuh ketidakpastian.


Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia Andi Nugroho menjelaskan sebetulnya masih terdapat kesempatan bagi masyarakat untuk mendapatkan untung besar dari kondisi tersebut. Namun, langkah yang diambil bergantung pada karakteristik investor.

Andi membagi dua tipe karakter investor yang masuk ke pasar saham. Terdapat investor yang memikirkan pembelian untuk investasi jangka panjang, dan ada pula yang melakukannya untuk jangka yang lebih pendek seperti trading sehari-hari.

Menurut Andi, kondisi pasar saat ini merupakan momen yang lebih tepat dimanfaatkan oleh investor yang memiliki tujuan berinvestasi jangka panjang. Pasalnya, investor dapat membeli saham blue chips atau dari perusahaan besar yang memiliki pendapatan stabil dan liabilitas dalam jumlah yang tidak terlalu banyak dengan harga yang lebih rendah.

"Untuk investasi jangka panjang, pastinya sekarang adalah momentum yang bagus, terutama untuk bisa masuk saham-saham LQ45, saham-saham blue chip yang saat ini diskon besar-besaran. Jadi investor dapat beli dengan harga rendah," kata Andi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (13/3).

Namun, Andi mengingatkan, keuntungan yang didapat tak bisa muncul dalam waktu dekat. Sebab, kemungkinan besar harga saham masih akan tetap di level yang rendah dalam waktu yang lama.

"Mesti diingat, bahwa ini bouncing back-nya tidak mungkin dalam hitungan bulan, paling cepat setahun, mungkin saja 3 tahun lagi harganya baru bisa balik naik, tuturnya.

Namun, Andi menyebutkan terdapat juga keuntungan dari jangka waktu yang panjang tersebut. Andi menjelaskan, investor jangka panjang dapat lebih menghemat dari sisi pengeluaran transaksi perdagangan aktif.

Sementara untuk para trader atau investor yang menjual saham lebih cepat (jangka pendek), Andi menyarankan untuk memastikan hanya membeli saham dengan likuiditas tinggi. Saham yang sudah turun sebelum IHSG anjlok ia rekomendasikan untuk dihindari.

Andi juga mengingatkan kepada investor jangka pendek untuk lebih hati-hati dalam mengukur risiko. Pasalnya, di tengah kondisi ketidakpastian seperti sekarang, pergerakan pasar saham sulit untuk ditebak.

[Gambas:Video CNN]
"Harus lebih hati-hati, karena ada beberapa kejadian yang selama ini harga sahamnya naik terus, tapi kemudian besoknya sudah anjlok karena suatu peristiwa atau berita," tuturnya.

Senada, Perencana Keuangan Finansia Consulting Eko Endarto juga menyebut momen penurunan harga saham dapat menjadi kesempatan besar untuk investasi panjang. Namun, ia menyarankan para investor untuk mengetahui terlebih dahulu toleransi risiko masing-masing pribadi.

Menurut Eko, investor sebaiknya berinvestasi menggunakan cara yang cocok dengan karakter kemampuan dirinya menerima resiko masing-masing. "Ada orang-orang yang tipenya konservatif, ada yang agresif, ada yang moderat. Kalau misal sudah paham tingkat kemampuan masing-masing menahan resiko, itu bisa meminimalisir kerugian dan menentukan waktu lebih tepat (untuk menjual saham)," tuturnya.

Untuk investor yang konservatif, Eko tidak menyarankan untuk masuk pasar saham di tengah kondisi penuh tekanan dan ketidakpastian seperti sekarang. Namun, bagi orang-orang tipe agresif, lanjut Eko, dapat memasuki pasar saham dan langsung membeli saham blue chip dengan harga diskon, serta bermain jangka panjang.

Sementara bagi para investor yang memiliki target untung dalam jangka pendek, Eko merekomendasikan untuk memakai cara lebih aman, dengan model investasi deposito atau obligasi suku retail.

"Kalau mau cari yang aman, bisa pilih investasi yang paling aman, tentunya model deposito Kemudian juga obligasi retail atau suku retail, atau kemarin yang dikeluarkan bank pemerintah (SBN). Mereka bisa pilih instrumen-instrumen investasi seperti itu. (agt)