Jokowi Geser Rp40 T Anggaran Kementerian Demi Genjot Konsumsi

CNN Indonesia | Senin, 16/03/2020 18:16 WIB
Jokowi meminta anggaran perjalanan kementerian Rp40 triliun ditahan dan dialihkan untuk menggenjot konsumsi. Jokowi meminta anggaran perjalanan kementerian Rp40 triliun ditahan dan dialihkan untuk menggenjot konsumsi. (Dok. Biro Sekretariat Presiden/Rusman).
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut potensi dana sebesar Rp40 triliun dapat digunakan untuk mendongkrak konsumsi masyarakat di tengah penyebaran virus corona.

Dana itu merupakan peralihan dari anggaran program di beberapa kementerian yang dianggap belum perlu untuk dilakukan dalam waktu dekat.

Jokowi memerintahkan seluruh menteri Kabinet Indonesia Maju untuk menahan dulu kegiatan-kegiatan yang tak berdampak langsung terhadap peningkatan daya beli masyarakat. Kegiatan itu, seperti perjalanan dinas atau pertemuan di luar kantor.


"Pertemuan-pertemuan yang tidak perlu ditahan dulu. Tadi saya juga minta ke Kementerian Keuangan untuk dibekukan terlebih dahulu. Ini ada kurang lebih Rp40 triliun yang bisa segera dialihkan ke program yang berkaitan langsung dengan konsumsi masyarakat," ujarnya, Senin (16/3).

Jokowi berharap pengalihan dana itu bisa menaikkan daya beli seluruh elemen masyarakat, khususnya masyarakat kelas menengah ke bawah. Masyarakat yang dimaksud, seperti buruh, petani, nelayan, pekerja Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

"Pada situasi yang berbeda kita berada pada situasi yang tidak seperti biasanya. Menteri harus berani menahan anggaran-anggaran dari program-program yang ada, sehingga anggaran yang ada diarahkan sebesar-besarnya untuk menolong masyarakat," ungkap Jokowi.

Sebelumnya Jokowi mengungkapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 berpotensi di bawah 5 persen. Hal ini karena penyebaran virus corona yang menggerogoti ekonomi global dan berdampak terhadap domestik.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi sepanjang 2019 sebesar 5,02 persen atau melambat dari 2018 yang masih di angka 5,17 persen.

Hal ini sejalan dengan pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang juga melambat tahun lalu. BPS mencatat tingkat konsumsi rumah tangga pada tahun lalu tercatat tumbuh 5,04 persen. Angkanya melambat dibandingkan periode 2018 lalu yang sebesar 5,05 persen.

Sementara, tingkat konsumsi rumah tangga pada kuartal IV 2019 hanya tumbuh 4,97 persen. Realisasi itu jauh melambat ketimbang kuartal IV 2018 lalu yang masih di atas 5 persen, yakni 5,08 persen.

Diketahui, konsumsi rumah tangga merupakan kontributor utama bagi pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Indikator itu menyumbang 56,62 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) sepanjang 2019.

[Gambas:Video CNN]

(aud/bir)