Corona, Harga Minyak Anjlok Terparah Sejak Perang Teluk

CNN Indonesia | Senin, 23/03/2020 06:58 WIB
Corona, Harga Minyak Anjlok Terparah Sejak Perang Teluk Harga minyak merosot terparah sejak Perang Teluk 1991 pada perdagangan Jumat (20/3). Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia masih tertekan pada perdagangan Jumat (20/3) hingga membukukan rekor penurunan terbesar sejak Perang Teluk 1991.

Mengutip Antara, Senin (23/3), harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei turun US$1,49 atau 5,2 persen ke posisi US$26,98 per barel. Minyak mentah Brent turun sebesar 20 persen dalam sepekan.

Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei jatuh US$2,69 atau 10,7 persen menjadi US$25,53 per barel. Minyak WTI jatuh sebesar 29 persen, yang merupakan paling curam sejak awal Perang Teluk AS-Irak 1991.


Pekan ini terjadi penjualan besar-besaran selama empat hari. Sebab, perluasan penyebaran virus corona yang terus meluas membuat orang mengurangi perjalanan darat maupun udara. Analis utama seperti raksasa perdagangan Vitol dan peneliti energi IHS Market meramalkan permintaan minyak turun sebanyak 10 persen.

"Dengan ekonomi yang terus terhenti, semakin jelas permintaan terus turun. Apa pun upaya yang dilakukan untuk memangkas produksi di AS dan belanja modal, itu tidak cukup sekarang," kata mitra di Again Capital Management di New York, John Kilduff.

Pada saat yang sama, kesepakatan pengurangan produksi oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen sekutu termasuk Rusia, atau OPEC+, gagal. Alih-alih mengurangi produksi, Arab Saudi malah akan mendorong produksi menjadi 12,3 juta barel per hari. Arab Saudi akan memesan kapal tanker untuk mengirim minyak ke seluruh dunia.

Merespons kegagalan itu, AS mengatakan akan mengirim seorang utusan menuju Arab Saudi guna menangani dampak dari perang harga minyak Saudi-Rusia. AS mengatakan mereka akan mengirim pejabat Departemen Energi AS ke Arab Saudi selama beberapa bulan untuk menstabilkan pasar energi.

Selain itu, regulator negara bagian Texas akan berbicara dengan Sekretaris Jenderal OPEC Mohammad Barkindo tentang peluang pengurangan produksi global.

"Permintaan global dengan mudah dapat turun 10 juta barel per hari atau lebih," kata kepala penelitian di Vitol, Giovanni Serio.

[Gambas:Video CNN]


(ulf/sfr)