Buyback saham dilakukan sebagai langkah menjaga kestabilan harga saham perusahaan di tengah pelemahan bursa efek akibat tekanan kekhawatiran pandemi virus corona atau covid-19.
Direktur Finance, Planning, and Treasury BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan buyback saham akan dilakukan tanpa melalui RUPS sesuai izin Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pembelian saham dilakukan dengan memberi insentif jangka panjang (Long Term Incentive/LTI) kepada pengurus bank dan pegawai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua, sebanyak Rp68,75 miliar atau 25 persen dari alokasi digunakan pada 2021. Ketiga, sisa 25 persen lainnya untuk pelaksanaan di 2022.
"Perseroan telah menunjuk perusahaan sekuritas sebagai perantara pedagang efek untuk melakukan pembelian saham tersebut," jelasnya.
Yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, dan BTN. Lalu, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, PT PP (Persero) Tbk, PT Waskita Karya (Persero) Tbk, dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk.
Kemudian, PT Aneka Tambang Tbk, PT Bukit Asam Tbk, dan PT Timah Tbk. Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mengatakan kementerian sudah berkoordinasi dengan para perusahaan.
Sementara, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih kurang bergairah. IHSG yang masih berada di kisaran 6.000 pada awal tahun ini terus turun hingga menyentuh 4.000.
Pada perdagangan siang ini, IHSG berada di level 4.358,53 atau melemah 4,11 persen dari akhir perdagangan Jumat (27/3) lalu. Perdagangan sempat dibekukan sementara (trading halt) pada pukul 10.20 WIB karena pelemahan indeks menyentuh 5 persen.
[Gambas:Video CNN]
(uli/bir)