Virus Corona Dongkrak Angka Pengangguran di AS

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Sabtu, 28/03/2020 00:40 WIB
AS telah menggeser China dengan korban positif corona terbanyak di dunia. Begitu pula dengan angka pengangguran yang meroket. Amerika Serikat telah menggeser China dengan korban positif corona terbanyak di dunia. Begitu pula dengan angka pengangguran yang meroket. Ilustrasi. (AFP/JAVIER SORIANO)
Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat telah menggeser China dengan jumlah korban terinfeksi virus corona terbanyak di dunia. Berdasarkan data John Hopkins, hingga Jumat (27/9) orang yang positif di Amerika Serikat mencapai 85.991 orang. Sementara di China mencapai 81.828 orang.

Sejalan dengan rekor tersebut, jumlah pengangguran di AS pun turut meroket. Dikutip dari AFP, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan sebanyak 3,3 juta orang telah mendaftar untuk mendapatkan tunjangan pengangguran.

Jumlah tersebut diklaim menjadi terbanyak yang pernah tercatat oleh AS. Kehilangan pekerjaan telah melanda berbagai sektor mulai dari layanan makanan, ritel hingga transportasi, karena hampir separuh negara telah menutup bisnis yang tidak penting.


"Sangat mengejutkan. Kami hanya melihat angka awal. Sayangnya, mereka akan bertambah buruk," kata Walikota New York Bill de Blasio.

De Blasio memperkirakan bahwa 500 ribu orang di New York akan kehilangan pekerjaan. Namun, Wall Street mulai menguat selama tiga hari berturut-turut. Pergerakan Wall Street diprediksi menguat karena stimulus yang akan diberikan pemerintah AS sebanyak US$2 triliun untuk menyelamatkan ekonomi negara tersebut.

Virus corona pun telah menimbulkan kekhawatiran resesi global. Namun, para pemimpin negara yang tergabung dalam G20 telah membahas dan sepakat untuk melawan wabah ini bersama. Rencananya mereka akan mengeluarkan sejumlah paket untuk menyelamatkan keuangan

Lebih dari 530 ribu orang telah terinfeksi virus corona di seluruh dunia. Peneliti Imperial College London mengungkap, dengan penguncian (lockdown) yang diterapkan di seluruh dunia, jumlah kematian global bisa tinggi.

Para peneliti Imperial College London mengatakan jumlah kematian global bisa meroket. Model penelitian mereka menunjukkan 1,86 juta orang bisa meninggal dengan hampir 470 juta orang terinfeksi tahun ini.

Menurut peneliti tersebut, kegagalan bertindak cepat dalam memaksakan lockdown dan jarak sosial yang ketat bisa membuat angka itu jauh lebih tinggi

"Analisis kami menyoroti keputusan menantang yang dihadapi oleh semua pemerintah dalam beberapa minggu dan bulan mendatang. Namun, tindakan cepat, tegas dan kolektif sekarang dapat menyelamatkan jutaan nyawa," kata para peneliti.

[Gambas:Video CNN]


(age/bir)