Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia Fithra Faisal menuturkan jika dalam proses karantina itu masih terjadi proses transaksi ekonomi, maka potensi kerugian ekonomi dapat ditekan menjadi Rp50 triliun hingga Rp100 triliun dalam 14 hari.
"Perhitungan itu dilihat dari potensi kehilangan sisi manufaktur yang tidak produksi, kemudian perputaran uang di sektor pariwisata, jasa keuangan, dan pendapatan pajak akibat lockdown," jelasnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (30/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia memproyeksi jika pandemi ini berlangsung selama 4-5 bulan, maka pertumbuhan ekonomi hanya berada di posisi 3,2 persen-3,3 persen. Namun, jika virus corona berlangsung lebih lama lebih dari 6 bulan, maka pertumbuhan ekonomi terancam hanya tumbuh 1,3 persen.
Berkaca dari perkembangan kasus positif, ia memperkirakan puncak penyebaran akan terjadi pada 6-12 Mei. Setelah itu, penyebaran akan melandai pada Mei-Juni.
Meski ekonomi tahun ini dipastikan kontraksi, Fithra mengaku tak mempermasalahkan kondisi tersebut. Alasannya, keadaan serupa juga dialami oleh mayoritas negara di dunia.
Selain itu, kontraksi ini dipicu karena penyebaran virus corona bukan faktor fundamental. Oleh sebab itu, ia meramal pertumbuhan ekonomi akan balik arah tahun depan.
"Kapasitas produksi kita tidak terlalu terganggu, maka tahun berikutnya bisa bouncing dalam rentang 6 persen-8 persen tergantung dari kontraksi di 2020," katanya.
"Yang paling penting pemerintah pusat harus jelaskan kebijakannya, bukannya pemerintah daerah. Pemerintah pusat mengambil komando, sehingga ini mampu dibaca pasar sebagai hal positif," jelas Fithra.
Ekonom Indef Abra PG Talattov menuturkan pemerintah sebaiknya menempuh kebijakan lockdown untuk DKI Jakarta sebagai episentrum virus corona.
"Lebih baik minum pil pahit satu bulan, tetapi setelah itu diharapkan penyebaran tidak ada lagi dan aktivitas warga bisa normal lagi," tutur dia.
[Gambas:Video CNN]
Ia tidak menampik kebijakan lockdown bakal memukul beberapa sektor, antara lain, perhotelan, transportasi, UMKM, dan jasa keuangan. Pun demikian, sektor-sektor tersebut telah tertekan lebih dulu dengan kemunculan virus corona ini.
Dari sisi pertumbuhan ekonomi, Indef memprediksi jika pemerintah memutuskan lockdown selama satu bulan, maka pertumbuhan ekonomi hanya berada di posisi 3,6 persen.
Jika berlangsung 3 bulan, maka ekonomi diramal tumbuh 3,58 persen dan 3,66 persen jika lockdown berlangsung 6 bulan. Skenario itu, lanjut dia, tanpa memperhitungkan intervensi pemerintah.
"Kalau tidak lockdown dampaknya lebih buruk, saat negara lain, seperti Malaysia, Vietnam, dan Thailand sudah pulih, maka investor sudah pasti akan lari kepada mereka yang sudah normal," tegas dia.
Ia juga mengimbau pemerintah memetakan pasokan pangan agar cukup untuk memenuhi kebutuhan lockdown di DKI Jakarta. Pemerintah juga harus bersiap jika terjadi panic buying di masyarakat.
"Jangan sampai nanti ketika lockdown masyarakat justru kesulitan pangan. Jadi, dampak gejolak sosial menjadi risiko yang harus diantisipasi pemerintah," tandasnya. (ulf/bir)