BI Sebut Rupiah 'Undervalue'

CNN Indonesia | Kamis, 02/04/2020 15:47 WIB
Gubernur BI Perry Warjiyo optimistis rupiah mengarah Rp15 ribu per dolar AS pada akhir tahun, karena posisinya saat ini masih di bawah nilai semestinya. Gubernur BI Perry Warjiyo optimistis rupiah mengarah Rp15 ribu per dolar AS pada akhir tahun, karena posisinya saat ini masih di bawah nilai semestinya. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan posisi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini undervalue atau di bawah nilai yang semestinya. Makanya, BI masih optimis mata uang garuda berpotensi menguat. Bahkan, mengarah ke level Rp15 ribu per dolar AS pada akhir tahun.

"Kami memandang bahwa nilai tukar rupiah yang kami jaga itu memadai, bahkan cenderung masih undervalued. BI akan terus melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah," ujarnya melalui video conference, Kamis (2/4).

Perry mengatakan keyakinan bank sentral didasari kepercayaan investor asing kepada Indonesia. Ia meyakini nilai tukar rupiah dapat menembus level Rp15 ribu per dolar AS pada akhir tahun.


Dalam kesempatan itu, ia juga menjelaskan bahwa asumsi nilai tukar rupiah dalam skenario berat adalah di posisi Rp17.500 per dolar AS, sedangkan skenario paling berat adalah Rp20 ribu per dolar AS. Namun demikian, ia menegaskan angka tersebut bukan proyeksi, namun what if scenario atau skenario paling buruk.

"Dari pasar telah terbangun ada kecenderungan tidak hanya bergerak stabil, tapi juga di akhir tahun nanti mengarah pada Rp15 ribu per dolar AS," katanya.

Pagi tadi, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp16.505 per dolar AS atau melemah 0,33 persen dibandingkan perdagangan Rabu (1/4) sore di level Rp16.450 per dolar AS. Rupiah terus terdepresiasi pada perdagangan siang hingga menyentuh posisi Rp16.550 per dolar AS.

Sebelumnya, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mengungkap skenario terburuk nilai tukar rupiah bisa menyentuh kisaran Rp17.500 sampai Rp20 ribu per dolar AS pada tahun ini.

Skenario ini muncul akibat tekanan ekonomi yang berat di tengah penyebaran pandemi virus corona.

"Asumsi makro skenario ini kami lakukan untuk mencegah agar tidak terjadi," ungkap Menteri Keuangan sekaligus Ketua KSSK Sri Mulyani.

[Gambas:Video CNN]


(ulf/bir)