Korean Air Rumahkan 13 Ribu Pekerja, Lufthansa Kurangi Armada

CNN Indonesia | Kamis, 09/04/2020 03:40 WIB
Korean Air merumahkan lebih dari 13 ribu pekerjanya dan Lufthansa memangkas 43 armada pesawat karena tekanan bisnis penerbangan di tengah corona. Korean Air merumahkan lebih dari 13 ribu pekerjanya dan Lufthansa memangkas 43 armada pesawat karena tekanan bisnis penerbangan di tengah corona. (Wikipedia Common/Sergey Kustov).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pandemi virus corona terus menerus memukul industri penerbangan. Setelah PHK (pemutusan hubungan kerja) yang dilakukan Boeing dan sejumlah maskapai penerbangan internasional, kini giliran Korean Air dan Lufthansa yang menempuh kebijakan serupa.

Mengutip AFP, Rabu (8/4), Korean Air merumahkan 70 persen pekerjanya atawa sekitar 13.300 dari total karyawan 19 ribu. Mereka diminta cuti dengan bayaran 70 persen dari upah bulanan mereka.

Kebijakan ini ditempuh sebagai upaya manajemen mengurangi tekanan pendapatan di tengah pemangkasan rute dan frekuensi terbang, termasuk ribuan penerbangan yang telah dibatalkan. "Perusahaan mengalami gejolak keuangan," tulis manajemen.


Korean Air merupakan sektor usaha unggulan dari Hanjin Grup, salah satu konglomerat yang mendominasi bisnis di Korea Selatan.

Kebijakan merumahkan karyawan, kata manajemen, dimulai 16 April dan berlaku selama enam bulan. "Sebagai tanggapan keadaan bisnis yang memburuk," lanjut manajemen.

Gaji yang diberikan bagi karyawan yang dirumahkan berasal dari kantong perusahaan, termasuk stimulus yang diberikan pemerintah setempat sebagai bantuan penanganan pandemi virus corona terhadap dunia usaha.

Serikat Pekerja Korean Air sepakat untuk mengambil program cuti berbayar itu sebagai bagian dari peran karyawan berbagi beban. Selain karyawan, eksekutif perusahaan pun merelakan gaji mereka.

Sementara, Lufthansa, salah satu maskapai kelas kakap Eropa yang berbasis di Jerman, memutuskan untuk memasukkan 43 unit pesawat mereka ke kandang. Ini artinya, enam persen dari total armada yang dimilikinya berhenti beroperasi sementara waktu.

Sekadar informasi, di luar Jerman, Lufthansa memiliki bisnis penerbangan di Swiss, Austria, dan Belgia.

Mengutip CNN.com, manajemen memutuskan mengurangi armadanya dan menghentikan operasional maskapai berbiaya rendah karena payahnya bisnis penerbangan. Alasan lain, kata manajemen, pemulihan bisnis penerbangan akan memakan waktu bertahun-tahun.

"Melihat kenyataan ini, manajemen memutuskan mengambil langkah-langkah lebih luas dengan mengurangi kapasitas penerbangan dan administrasi jangka panjang," tulisnya.

Sejak pandemi virus corona masuk ke Eropa, Lufthansa menangguhkan ribuan jadwal penerbangan dan memaksa karyawan mereka untuk cuti tanpa bayaran.

[Gambas:Video CNN]

(bir/sfr)