McKinsey juga memperkirakan satu dari empat pekerjaan di Uni Eropa dan Inggris berisiko mengalami pengurangan jam kerja, pemotongan upah, dirumahkan sementara hingga PHK permanen.
Jenis pekerjaan berisiko tinggi di antaranya adalah profesi yang memerlukan kontak dengan orang lain seperti kasir, koki, pekerja konstruksi, staf hotel, hingga aktor. Seperti dilansir dari CNN.com, Senin (20/4), tercatat ada sekitar 55 juta orang menjalani profesi tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Melindungi pekerjaan yang berisiko di perusahaan sehat dan produktif adalah hal yang sangat penting. Kehilangan pekerjaan tidak hanya akan menjadi tragedi bagi individu-individu, tetapi juga akan sangat menyakitkan dari perspektif ekonomi," tulis laporan McKinsey.
Selain itu pemerintah juga harus memberikan jaminan pinjaman, keringanan pajak, dan pembayaran jaminan untuk pekerja. Beberapa hal sudah dilakukan di seluruh Eropa, seperti langkah pemerintah Inggris menanggung 80 persen gaji pekerja hingga setidaknya tiga bulan ke depan hingga maksimum 2.500 poundsterling per bulan.
Uni Eropa juga sudah mempersiapkan paket bantuan virus corona senilai 100 miliar euro atau sekitar Rp1,6 triliun serta ratusan miliar pinjaman untuk bisnis dan kredit.
Tingkat pengangguran negara tersebut naik menjadi 4,4 persen pada Maret dan diperkirakan mencapai dua digit pada April. Banyak ekonom memprediksi pengangguran di AS akan mencapai 15 persen atau lebih.
Berkaca pada krisis keuangan global 2008, AS mampu menurunkan tingkat pengangguran dibanding Eropa. Hal tersebut kemungkinan karena peraturan pasar tenaga kerja yang lebih fleksibel.
[Gambas:Video CNN]
(nva/agt)