Direktur Utama BEI Inarno Djayadi mengungkapkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok sebesar 26,43 persen sejak awal tahun ke posisi 4.635 per 17 April 2020. Jatuhnya IHSG diikuti oleh penurunan kapitalisasi pasar sebesar 26,11 persen menjadi Rp5.368 triliun.
"Sampai dengan akhir pekan lalu, 17 April 2020 indikator perdagangan mengalami penurunan dibandingkan penutupan 2019," ujarnya dalam video conference, Jumat (24/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Namun, begitu kondisinya membaik balik lagi, jadi memang selalu menimbulkan volatilitas tinggi saat krisis seperti ini," paparnya.
Menurutnya, kondisi IHSG saat ini lebih baik dibandingkan dengan krisis 2008. Saat itu, indeks saham turun hingga 50 persen, sedangkan saat ini IHSG melemah 26,43 persen. Ia menjelaskan kondisi ini ditopang oleh peningkatan investor domestik.
[Gambas:Video CNN]
"Ini dominasi investor domestik yang berfungsi sebagai shock breaker saat terjadi kejutan di pasar modal. Kalau asing memang nature (kebiasaan) begitu, saat terjadi krisis pasti mereka lari ke safe haven," jelasnya.
Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) memaparkan investor saham per 31 Maret 2020 mencapai 1,16 juta orang, naik dari posisi akhir tahun yaitu 1,1 juta. Jumlah investor saham mewakili 42,6 persen total investor di pasar modal yakni 2,67 juta investor. (ulf/agt)