Pada prinsipnya, kejatuhan harga minyak dunia memberi untung dan rugi bagi negara, termasuk pemangku kepentingan lainnya, seperti Bank Indonesia (BI), dunia usaha, hingga masyarakat umum.
Dari sisi hulu, penurunan harga minyak mentah dunia hingga menyentuh kisaran US$20 per barel hanya memberikan kerugian bagi sektor ini, baik kepada negara maupun dunia usaha. Sebab, negara akan kehilangan penerimaan pajak dari kelangsungan bisnis hulu minyak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan dari sisi hilir, penurunan harga minyak mentah dunia akan memberi keuntungan bagi Bank Indonesia (BI). Pasalnya, Indonesia merupakan negara net importir minyak.
Harga minyak yang tinggi dan volume yang tidak sedikit membuat BI perlu menyediakan devisa untuk kebutuhan impor berkisar US$60 juta per hari dengan asumsi harga US$60 per barel dan volume impor 1 juta barel.
"Ini memberikan keuntungan bagi BI, sehingga kebutuhan devisa bisa berkurang sekitar US$46 juta per hari. Ekuivalennya bisa berkurang hampir US$17 miliar per tahun kalau harga minyak stabil rendah terus," terang Rudi.
Keuntungan juga akan dirasakan oleh negara. Sebab, anggaran subsidi BBM yang mencapai US$20,8 triliun dari asumsi ICP US$63 per barel akan merosot jauh.
"Yang pasti anggaran subsidi jadi lebih murah. Ini seharusnya bisa membuat rakyat mendapat BBM lebih murah juga," ucapnya.
"Mulai 1 Mei ini, seharusnya Pertamina, Total, Shell, dan badan usaha lainnya seharusnya jual (BBM) sekitar Rp7.100 dan di Juni nanti jadi Rp5.650 per liter," ucapnya.
Kendati begitu, negara juga harus menelan kerugian karena kehilangan potensi penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari penjualan BBM. Namun, belum ada proyeksi seberapa jauh potensi penurunan penerimaan dari PPN BBM.
Lebih lanjut Rudi memperkirakan gejolak harga minyak mentah dunia akan terus bergulir hingga beberapa bulan ke depan. Proyeksinya, harga minyak dunia baru stabil sekitar tiga sampai empat bulan ke depan.
"Itu pun harganya baru bisa balik ke US$30 sampai US$40 per barel. Baru nanti naik lagi di 2021 dan seterusnya hingga kembali ke kisaran US$50 sampai US$60 per barel," tandasnya.
[Gambas:Video CNN]
(uli/bir)