Menurut rencana, IndonesianHub diluncurkan pada Juni 2020. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengungkapkan harap para pemangku kepentingan dapat mengambil informasi relevan yang dibutuhkan, sementara bagi pihaknya selaku regulator agar mudah menyusun desain regulasi.
Terakhir, untuk dunia usaha sendiri disebut akan memperoleh informasi yang cukup terkait ketersediaan produk pertanian yang berorientasi ekspor, baik dari kuantitas, kawasan atau lokasi, serta negara tujuan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Misalnya terkait dengan bunga melati yang merupakan komoditas pertanian unggulan Jawa Tengah ini, di saat negara lain seperti Thailand dan India tidak bisa menghasilkan melati, sementara pada saat itu produk tanah air berlimpah, sehingga dapat ekspor ke negara tersebut," katanya, memberi contoh.
Dalam kesempatan itu, SYL juga melakukan pengiriman sertifikat elektronik karantina pertanian ke Belanda untuk komoditas kopi dan santan kelapa. Lex Morret, pejabat otoritas yang menerima sertifikat, mengapresiasi bahwa Indonesia masih bisa melakukan ekspor di tengah kondisi sulit.
"Indonesia patut bersyukur karena ditengah suasana pademi, masih dapat melakukan ekspor. Produk yang berkualitas, berdaya saing dan juga digemari dunia termasuk negaranya," ujar Lex.
Lihat juga:Mentan Resmikan Pasar Mitra Tani di Bekasi |
Melansir data BPS, neraca perdagangan Indonesia justru mengalami surplus sebesar US$743 di tengah wabah pandemi Covid-19. Surplus terjadi karena nilai ekspor yang mencapai US$14,09 miliar atau tumbuh 0,23 persen dari US$14,06 miliar pada Februari 2020.
"Ekspor pertanian mengalami kenaikan signifikan, baik secara bulan maupun tahunan. Tercatat, ekspor pertanian mencapai USD 320 juta, atau naik 6,10 persen (mtm) dan naik 17,82 persen (yoy)," ujar Ali.
"Sehingga sektor pertanian memiliki posisi dan peranan besar terhadap kenaikan kinerja ekspor. Tercatat ekspor non migas sebesar US$13,42 miliar atau naik 1,24 persen dari sebelumnya yang hanya US$13,26 miliar pada Februari 2020," katanya. (rea)