Jumlah itu berasal dari seluruh potensi pendapatan maskapai di dunia akibat penyebaran virus corona di tengah aturan pembatasan penerbangan, baik untuk rute domestik dan internasional.
Menurut Ani, panggilan akrab Sri Mulyani, sebanyak 1.000 pesawat milik perusahaan penerbangan di Amerika Serikat diproyeksi berhenti beroperasi sepanjang 2020. Ini terjadi karena setiap negara memberlakukan larangan perjalanan (travel ban) dan pembatasan penerbangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"25 juta pekerjaan yang berkaitan dengan industri penerbangan akan terdampak pandemi corona," tutur dia.
Mengutip CNN.com, CEO IATA Alexandre de Juniac memprediksi penerbangan di dunia merugi US$113 miliar atau Rp1.695 triliun jika wabah virus corona terus meluas. Kerugian ini sama dengan kerugian industri penerbangan ketika krisis keuangan global menghantam pada 2008 silam.
IATA mengungkap maskapai penerbangan bisa kehilangan 19 persen dari bisnis mereka jika penyebaran virus corona tidak segera berhenti. Situasi ini merupakan krisis untuk industri penerbangan.
[Gambas:Video CNN]
(aud/bir)