Perencana Keuangan Finansia Consulting Eko Endarto mengatakan memang wajar jika tagihan listrik rumah tangga membengkak dalam beberapa bulan terakhir. Pasalnya, virus corona telah memaksa mayoritas karyawan kini bekerja dari rumah.
Masyarakat yang biasanya menghabiskan waktu di kantor, sekarang harus menggunakan listrik pribadinya untuk menyelesaikan pekerjaan. Namun, bukan berarti masyarakat hanya bisa pasrah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jangan komputer menyala, televisi menyala juga padahal tidak sedang menonton juga. Fokus saja pada barang-barang elektronik yang memang dibutuhkan untuk kegiatan produktif," terang Eko.
Selain itu, masyarakat juga harus lebih selektif menggunakan pendingin ruangan dan lampu. Walaupun seharian berada di rumah, bukan berarti pendingin ruangan di setiap kamar harus dinyalakan.
[Gambas:Video CNN]
"Coba aktifkan pendingin ruangan hanya di satu tempat. Kalau memang sedang bekerja di ruang tengah, ya pendingin ruangan di tengah saja yang diaktifkan, jangan semua," jelas dia.
Selain itu, masing-masing keluarga juga bisa membuat kegiatan yang fokus hanya di satu ruangan apabila sedang tak bekerja. Dengan demikian, penggunaan pendingin ruangan, lampu, televisi bisa dikurangi.
"Buat aktivitas menonton bersama, jangan televisi hidup semua," imbuh Eko.
Senada, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menyatakan tiap keluarga harus pintar-pintar menata kegiatan di rumah agar kantong tak bolong akibat tagihan listrik membengkak selama kebijakan bekerja dari rumah berlangsung. Menurut dia, masyarakat bisa mengakalinya dengan mengatur jam kerja dengan ketat.
"Jadi kalau bisa jangan sampai malam. Tetapkan jam kerja seperti di kantor, jangan karena di rumah justru jadi sampai malam," ucap Yusuf.
Dia bilang masyarakat biasanya menjadi lebih santai ketika bekerja di rumah. Hal itu membuat pekerjaan yang seharusnya bisa selesai saat sore hari menjadi malam, karena pekerjaan tak langsung dikerjakan.
"Orang suka menunda-nunda pekerjaan, padahal bisa dipercepat sehingga jam kerja tidak perlu sampai larut," tutur Yusuf.
"Jangan berlebihan. Beban listrik bisa naik kalau berlebihan," kata dia.
Beberapa hari lalu beberapa warga mengeluhkan tagihan listrik melonjak hingga 50 persen. Keluhan itu salah satunya disampaikan oleh Rizka Annisa.
"Akhirnya saya cek tagihan listrik, dan ternyata naik dengan perkiraan Rp200 ribu hingga Rp300 ribu. Padahal pemakaian sama saja," ungkapnya.
Sementara itu, Executive Vice President Corporate Communication & CSR PT PLN (Persero) I Made Suprateka memastikan tarif listrik untuk seluruh golongan pada periode April hingga Juni 2020 tidak naik saat pandemi virus corona. Pengumuman dibuat menyusul aturan penetapan tarif dilakukan tiga bulan sekali oleh pemerintah.
Made merinci tarif listrik untuk tengangan rendah Rp1.467 per kwh, R-1/900 VA RTM sebesar Rp1.352/kwh, tegangan menengah sebesar Rp1.115/kwh, dan tegangan tinggi sebesar Rp 997/kWh. (aud/agt)