Pengakuan ini berkaca pada realisasi pertumbuhan ekonomi nasional yang cuma 2,97 persen pada kuartal I 2020. Padahal, biasanya ekonomi tiga bulan pertama bisa menyentuh kisaran 4,9 persen sampai 5 persen.
Dari realisasi itu, laju konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 2,84 persen dari biasanya mencapai 5 persen. Bila dikonversi menjadi Produk Domestik Bruto (PDB), Ani memperkirakan sumbangan konsumsi rumah tangga seharusnya mencapai Rp9.000 triliun, di mana sekitar Rp5.000 triliun berada di Jawa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tentu ini bisa mengurangi ke mereka yang terdampak, khususnya dalam bentuk PHK. Kami berharap ini cukup memberikan bantalan sosial," katanya.
Lebih lanjut, turunnya laju konsumsi rumah tangga dipastikan tidak mampu mengangkat pertumbuhan ekonomi yang diharapkan setidaknya berada di kisaran 2,3 persen pada tahun ini. Bahkan, menurut mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu, bayang-bayang perekonomian dengan skenario terburuk tumbuh minus 0,4 persen kian nyata.
[Gambas:Video CNN]
"Ini akan masuk dalam skenario sangat berat, mungkin saja terjadi dari 2,3 persen menjadi minus 0,4 persen apabila di kuartal ketiga dan keempat tidak mampu recover atau pandemi menimbulkan dampak yang panjang," jelasnya.
Sebagai informasi, pada perlindungan sosial, pemerintah menyiapkan beberapa program. Mulai dari Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Sembako, Paket Sembako, Kartu Prakerja, hingga diskon dan gratis penggunaan listrik bersubsidi.