Termasuk juga, penggantian klaim perawatan pasien covid-19 melalui 129 rumah sakit sebesar Rp975 miliar. "Saat ini, jumlah klaim rumah sakit yang sudah dibayarkan sebesar Rp85,87 miliar untuk 1.888 pasien covid-19," ujar Ani, dalam keterangan resmi, Senin (11/5).
Lebih lanjut ia memaparkan Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan kepada seluruh kementerian/lembaga (K/L) dan daerah agar melakukan refocusing anggaran untuk dana kesehatan, bansos dan UMKM.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ani mennyebutkan pasca penetapan Perpres 54/2020, ada penghematan lanjutan atas belanja K/L. Salah satunya adalah sumber penghematan adalah kegiatan/proyek yang terhambat akibat adanya pandemi covid-19, atau dapat ditunda ke tahun berikutnya.
Pedoman penghematan tersebut sebagai berikut. Pertama, belanja yang tidak terkait dengan penanggulangan covid-19 dapat ditunda.
Ketiga, beberapa kegiatan/proyek (tidak terkait covid-19) yang sudah dikontrak dapat dinegosiasi kembali dengan pihak ketiga untuk ditunda pengerjaannya karena terdampak vovid-19. Keempat, belanja pegawai akan dilakukan penundaan kenaikan tunkin dan pengangkatan CPNS, serta delayering.
Selain itu, pemerintah melakukan penyesuaian alokasi TKDD, untuk pendanaan penanganan covid-19 beserta dampaknya secara terpusat dan terkoordinasi, sehingga dana yang dikurangi dari TKDD pada dasarnya kembali untuk masyarakat di daerah melalui bansos, insentif UMKM dan sebagainya.
"Kami meminta kepada daerah untuk dapat melakukan refocusing terutama DBH, DAU, dan DAK fisik," terang dia.
Di sisi lain, ada kenaikan belanja lainnya yaitu dari 24,63 persen menjadi 30,33 persen yang ditujukan untuk antara bansos dan belanja tidak terduga.
Total belanja yang direalokasi dan refocusing adalah sebesar Rp51,09 triliun, yang ditujukan untuk bidang kesehatan (covid-19) sebesar Rp22,34 triliun, jaring pengaman sosial sebesar Rp18,88 triliun dan penanganan dampak ekonomi sebesar Rp9,88 triliun.
[Gambas:Video CNN]
(age/bir)