Ketua Asosiasi Masyarakat Peternak Sumsel Ismaidi Chaniago mengungkapkan harga telur ayam sempat tertekan hingga Rp13 ribu per Kg atau di bawah harga normal Rp20 ribu hingga Rp22 ribu per Kg.
"Sekarang harga mulai merangkak naik menjadi Rp16 ribu per Kg," ujar Ismaidi, Selasa (13/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Padahal, ini sudah mau lebaran Idul Fitri, biasanya harga akan semakin baik. Tapi sedang wabah seperti ini kami masih belum tahu permintaan bakal naik apa enggak. Untuk stok itu sebenarnya aman, tidak perlu khawatir. Tapi memang permintaannya yang berkurang," ujar dia.
Di tengah penurunan daya beli masyarakat tersebut, Ismaidi mengungkapkan para peternak takut dengan ancaman munculnya telur ayam tetas.
"Sekarang di pasaran Palembang, telur konsumsi dan tetas di tingkat pedagang sudah bercampur. Masyarakat juga pasti lebih memilih beli yang lebih murah. Bisa dipastikan minggu lalu (telur ayam tetas) masih ada di pasaran. Ada yang berjualan melalui koperasi dengan harga murah dan mengandalkan ketidaktahuan pembeli," jelas dia.
Sebagai catatan, pemerintah melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 32/permentan/PK/230/2017 tentang penyediaan, peredaran, dan pengawasan ayam ras dan telur konsumsi, telah menerapkan pelarangan penjualan telur ayam tetas.
Sebagai informasi, berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional, rata-rata harga telur ayam ras segar di pasar tradisional seluruh Indonesia masih tercatat Rp24.150 per Kg pada Selasa (12/5) atau turun 0,21 persen dibandingkan sehari sebelumnya.
[Gambas:Video CNN]
(idz/sfr)