Founder sekaligus analis Ellen May Institute Ellen May menyebut emiten yang bergerak di bidang real estate yang paling babak belur mengingat lesunya transaksi jual-beli perumahan saat ini.
Dia mengambil contoh PT Bumi Serpong Damai Tbk yang mencatat penurunan tajam pada kinerja kuartal I 2020. Pendapatan emiten berkode BSDE untuk kuartal pertama 2020 rontok 57,1 persen jika dibandingkan kuartal IV 2019. Sementara, secara tahunan atau YoY penurunan tercatat sebesar 8,2 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penurunan laba bersih disebabkan beban bunga diskonto penjualan yang baru muncul pada kuartal I 2020 sebesar Rp115,1 miliar. Kondisi tersebut diperparah dengan penurunan laba bersih dari entitas asosiasi dan ventura seperti PT Plaza Indonesia Mandiri yang mencatatkan kerugian sebesar Rp22,5 miliar.
Utang berbunga pun tercatat naik dari Rp13,5 triliun pada kuartal I 2019 menjadi Rp20,05 triliun pada kuartal I 2020.
"Sehingga kami kurang mereferensi saham ini untuk berinvestasi jangka panjang," papar Ellen May.
CEO Capital Markets Asia Pasifik JLL Stuart Crow mengungkapkan penurunan volume transaksi di Asia Pasifik memang sudah dapat diperkirakan sejak melihat situasi pandemi covid-19.
"Banyak investor telah menghentikan aktivitas karena kondisi ekonomi yang tidak menentu dan banyak kesepakatan bisnis yang terpengaruh. Kami melihat penurunan aktivitas ini berlanjut ke kuartal II, dengan volume perdagangan yang cenderung bangkit kembali dan menguat di paruh kedua tahun ini," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (12/5).
Sanny menjelaskan perkiraan dibuat berdasarkan hasil kajian terbatas Kadin, Apindo dan Real Estate Indonesia (REI). Hasil kajian menunjukkan jika industri properti dan turunannya terganggu akibat corona, maka 30,34 juta pekerja akan terdampak.
Jumlah pekerja tersebut berasal dari dua sumber. Pertama, sebanyak 19,17 juta pekerja dari sektor properti. Kedua, sebanyak 11,18 juta pekerja dari industri terkait sektor properti.
[Gambas:Video CNN]
(age)