Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Yogyakarta Deddy Pranowo Ernowo mengatakan hotel dan restoran yang akan dibuka kembali hanya yang sudah siap dengan sarana dan prasarana protokol covid-19.
Di antaranya, kesiapan sarana wastafel di depan hotel, alat pengukur suhu thermo gun, serta Sumber Daya Manusia yang harus mengetahui detail protokol covid-19. "Baru 20-an hotel berbintang dan non-bintang yang sudah siap," ungkap Deddy kepada CNNIndonesia.com, Minggu (17/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi menyebut telah mendengar aspirasi dari PHRI untuk kembali membuka hotel-hotel yang selama pandemi tak beroperasi.
"Kami sesuaikan dengan tahapan untuk langkah-langkah kebangkitan Yogyakarta. Kami juga berkoordinasi untuk penguatan protokol covid-19, sehingga pihak hotel dan tamu bisa merasa nyaman dan aman," paparnya.
"Kita harus menjadikan momentum kebangkitan ini untuk membangun Yogyakarta dengan protokol baru," ucapnya.
New normal di Yogyakarta yang harus dikuatkan itu menyangkut sejumlah protokol baru di setiap sektor dan bidang, dengan kesehatan sebagai panglima gerakannya.
"Artinya, ketika masa pandemi covid-19 sudah mulai reda, kita belum bisa melakukan kegiatan-kegiatan secara normal seperti sebelum pandemi. Masih memerlukan waktu untuk menjalani masa transisi, terutama dalam upaya untuk mencegah penularan baru atau muncul kasus baru di Kota Yogyakarta," jelasnya.
"Dalam upaya kebangkitan ekonomi, kota Yogyakarta berjalan dalam tiga tahapan, yakni massa promosi dan event, masa dari Yogya untuk Yogya, dan masa dari Yogya untuk semuanya," sebutnya.
Untuk itu, Pemkot Yogyakarta menggandeng stakeholder terkait, seperti PHRI, Asita dan pelaku wisata lainnya, Kadin, serta komunitas dan penggerak masyarakat lainnya guna merealisasikan langkah-langkah pemulihan Yogyakarta.
Pertama, memberikan jaminan bahwa Yogyakarta sudah aman, bersih, dan terkendali, sehingga nyaman dikunjungi dan aktivitas pada situasi normal baru.
Ketiga, semua pihak harus membangun keyakinan publik tentang Yogyakarta. Salah satunya dengan relaunching brand yang selama ini melekat tentang Yogyakarta.
Keempat, kota harus bisa merebut kesempatan dan peluang, terutama di bidang pariwisata. Kelima, mempersiapkan kemudahan dalam mengakses informasi tentang semua kebutuhan masyarakat di Yogyakarta, sehingga dapat memberikan fasilitas dan layanan yang baik bagi siapa saja.
Heroe menambahkan kondisi itu otomatis juga berdampak pada perubahan proses layanan Pemkot kepada masyarakat. Perbaikan data tunggal, perbaikan SOP dan protokol, perbaikan tatacara kerja dan penilaian kinerjanya, Termasuk penerapan Jogja Smart Service (JSS). "JSS sebagai Balai Kota di dunia maya," ucapnya.
[Gambas:Video CNN]
(sut/bir)