Menurut Jokowi, hasil temuan di lapangan menyatakan bahwa prosedur yang dilakukan dalam penyaluran kedua program itu masih cukup berbelit.
"Padahal, situasinya adalah situasi yang tidak normal, yang bersifat extra ordinary, sekali lagi ini butuh kecepatan. Saya minta aturan itu dibuat sesimpel mungkin, sederhana mungkin, tanpa mengurangi akuntabilitas, sehingga pelaksanaan di lapangan bisa fleksibel," ujar Jokowi dalam rapat terbatas melalui video conference, Selasa (19/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, ia mengingatkan kebijakan penyaluran BLT Desa dan bansos tunai tidak boleh terlalu lama karena masyarakat tidak bisa menunggu. "Saya minta ini segera diselesaikan agar masyarakat yang menunggu bantuan itu bisa segera mendapatkan," tuturnya.
"Keterbukaan itu sangat diperlukan sekali. Untuk sistem pencegahan, minta saja didampingi dari KPK, dari BPKP, dari Kejaksaan, saya kira kita memiliki lembaga-lembaga untuk mengawasi dan mengontrol atau tidak terjadi korupsi di lapangan," katanya.
Pada BLT Desa, pemerintah mengalokasikan Rp600 ribu per keluarga per bulan selama tiga bulan kepada masyarakat desa yang kehilangan mata pencarian. Selain itu, penerima juga ditujukan bagi mereka yang belum menerima program bansos lain dari pemerintah, seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan Paket Sembako.
Sementara pada bansos tunai, pemerintah memberikan paket sembako setara Rp600 ribu per penerima per bulan selama tiga bulan kepada masyarakat di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Sasarannya 1,2 juta keluarga penerima di Jakarta dan 576 keluarga penerima di Bodetabek.
[Gambas:Video CNN]
(uli/bir)