Tren Harga Minyak Dunia Menguat Karena Pasokan Makin Ketat

CNN Indonesia | Jumat, 22/05/2020 11:19 WIB
Pemandangan tempat penampungan minyak di Tanjung Sekong, Banten, Rabu (23/3). Kementerian ESDM menyatakan kemungkinan turunnya harga premium dan solar jika melihat parameter harga minyak dunia yang terus berada pada kisaran 30 dolar AS per barel dan nilai tukar rupiah yang stabil pada kisaran Rp13.000 per dolar AS. ANTARA FOTO/Rosa Panggabean/ama/16. Harga minyak WTI untuk pengiriman Juli naik 1,28 persen jadi US#33,92 per barel, sedangkan Breng naik menjadi US$36,06 pada perdagangan Jumat (22/5). Ilustrasi kilang minyak. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia menguat ditopang oleh penurunan pasokan Amerika Serikat (AS). Penurunan pasokan sebagai tindak lanjut kesepakatan negara-negara penghasil minyak (OPEC) untuk memangkas persediaan, termasuk juga pemulihan permintaan setelah beberapa negara melonggarkan kebijakan penutupan wilayah (lockdown).

Pada perdagangan Jumat (22/5), harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli naik US$0,43 per barel atau 1,28 persen jadi US$33,92 per barel di New York Mercantile Exchange. Harga ini terpantau sejak 10 Maret lalu.

Sementara itu, harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juli berdasarkan acuan global naik US$0,31 dolar per barel atau 1,00 persen menjadi US$36,06 dolar per barel di London ICE Futures Exchange.


Sejumlah analis sepakat kelebihan pasokan mulai reda setelah pemangkasan produksi dipimpin OPEC dan penurunan persediaan minyak AS. OPEC+ sebelumnya menyepakati rencana pemangkasan produksi minyak sebanyak 9,7 juta barel per hari untuk Mei-Juni.

Sejauh ini, OPEC+ telah memotong ekspor minyak sekitar 6 juta barel per hari. Hal ini menunjukkan awal yang kuat dalam mematuhi kesepakatan. OPEC mengklaim pasar telah merespons dengan baik.

Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan persediaan minyak mentah AS turun 5 juta barel selama pekan yang berakhir 15 Mei. Para analis yang disurvei oleh S&P Global Platts pun memperkirakan kenaikan hanya 2,4 juta barel.

"Reli minyak mentah berjangka mulai mendekati level di mana penurunan produksi seperti AS akan mulai melambat dan mungkin berbalik ketika produsen berbiaya rendah berusaha untuk menghasilkan pendapatan," terang Jim Ritterbusch, Presiden Ritterbusch and Associates di Galena, Illinois, dilansir Antara.

Pada saat yang sama, ada bukti pulihnya penggunaan bahan bakar. Para investor juga menjadi berharap penuh atas pemulihan permintaan karena lebih banyak ekonomi mulai melonggarkan pembatasan penguncian mereka terkait virus corona.

[Gambas:Video CNN]


(Antara/bir)