Harga Minyak Dunia Terus Menguat Usai Pelonggaran Lockdown

CNN Indonesia | Senin, 18/05/2020 06:46 WIB
Kilang Minyak Harga minyak mentah dunia terus menguat usai pelonggaran lockdown sejumlah negara di tengah pandemi virus corona. Ilustrasi kilang minyak. (CNN Indonesia/Agus Triyono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah menguat ditopang pelonggaran penguncian wilayah (lockdown) di sejumlah negara akibat pandemi virus corona. Dengan demikian, permintaan bahan bakar beranjak naik.

Mengutip Antara, Senin (18/5), minyak mentah acuan West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni naik US$1,87 atau 6,8 persen menjadi US$29,43 per barel. WTI sempat tembus US$29,92 dalam sesi perdagangan yang merupakan posisi tertinggi sejak pertengahan Maret.

Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli naik US$1,37 atau 4,4 persen menjadi US$32,50 per barel. Selama sepekan, minyak WTI melonjak 19,7 persen dan minyak mentah Brent naik 5,2 persen.


Permintaan minyak menunjukkan penguatan setelah jatuh dalam beberapa bulan terakhir akibat pandemi corona. Data penggunaan minyak mentah harian China balik arah (rebound) pada April karena kilang-kilang meningkatkan operasi.

Namun, pasar tetap berhati-hati lantaran pandemi corona masih jauh dari selesai. Di sisi lain, klaster-klaster infeksi baru muncul di beberapa negara yang telah melonggarkan lockdown.

"Harga minyak naik signifikan sejak kemarin berkat penilaian situasi yang lebih baik oleh Badan Energi Internasional (IEA)," kata Commerzbank dalam sebuah catatan.

IEA memperkirakan persediaan minyak mentah global turun sekitar 5,5 juta barel per hari (bph) pada paruh kedua 2020. Secara tahunan, IEA memprediksi permintaan minyak turun 8,6 juta bph. Namun, angka penurunan itu lebih kecil 690 ribu bph dibandingkan prediksi bulan lalu.

Selain itu, Badan Informasi Energi AS mengatakan persediaan minyak mentah mereka turun tiba-tiba atau tak terduga. Ini mengurangi risiko bahwa harga akan anjlok menjelang akhir kontrak pada pekan depan.

"Dengan penurunan ini (harga minyak) tidak akan sama berbahayanya dengan yang terakhir kali," terang John Kilduff, seorang mitra di Again Capital Management di New York.

Sejalan dengan itu, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen besar lainnya telah merealisasikan pemotongan produksi untuk mengurangi kelebihan pasokan.

Organisasi itu akan mengurangi produksi sebesar 9,7 juta bph untuk Mei dan Juni. Selanjutnya, pemotongan produksi diturunkan menjadi 7,7 juta bph pada Juli-Desember, dan 5,8 juta bph di Januari-April 2021. (ulf/bir)