Dalam laporan terbarunya, IEA mengungkapkan perusahaan energi memangkas belanja di tengah permintaan yang merosot. Penurunan investasi terbesar akan terjadi pada industri minyak shale di AS. Sementara, penurunan investasi sektor energi terbarukan diperkirakan masih lebih rendah dibandingkan minyak.
"Seluruh sektor energi -- minyak, gas, energi terbarukan -- seluruhnya terpengaruh, tetapi dampak terbesar dirasakan oleh minyak shale," ujar Direktur IEA Fatih Birol seperti dikutip dari AFP, Rabu (27/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada risiko terkait pemangkasan investasi tahun ini akan mengarah pada ketidakseimbangan pasar di masa mendatang, yang akan memicu siklus harga energi baru atau volatilitas," ujarnya.
IEA memperkirakan bila investasi minyak berada di level 2020 maka pasokan pada 2025 akan 9 juta barel per hari lebih rendah dari proyeksi awa. Artinya, pasar akan ketat dan memicu kenaikan harga saat permintaan kembali ke level sebelum krisis.
Lebih lanjut, Birol mendorong negara-negara dunia untuk terus melanjutkan transisi ke energi bersih dengan memasukkannya dalam program pemulihan dari pandemi corona. Percepatan transisi ke energi besar akan membangkitkan investasi pada energi bersih.
[Gambas:Video CNN]
(sfr/agt)