Ekspansi Pabrik China Melambat pada Mei 2020

CNN Indonesia | Minggu, 31/05/2020 13:49 WIB
This photo taken on February 27, 2020 shows workers wearing face masks as they make insoles at the Zhejiang Xuda Shoes Co. factory in Wenzhou. - The number of new cases of the COVID-19 coronavirus in China has declined in recent days, but infections in other countries have gathered pace. (Photo by NOEL CELIS / AFP) Indeks Manajer Pembelian (PMI) China turun tipis dari 50,8 pada April menjadi 50,6 pada Mei 2020. Ilustrasi. (NOEL CELIS / AFP).
Jakarta, CNN Indonesia -- Ekspansi aktivitas pabrik China melambat pada Mei 2020. Kondisi itu tak lepas dari pandemi virus corona (covid-19) yang menghantam perekonomian global.

Perlambatan ekspansi tercermin dari Indeks Manajer Pembelian (PMI) yang merosot. Berdasarkan data Biro Statistik Nasional (NBS) China, PMI China tercatat 50,6 poin pada Mei. Angka itu turun tipis dari April, 50,8 poin, dan 52 poin pada Maret 2020.

Sebagai catatan, indeks di atas 50 mengindikasikan terjadinya ekspansi aktivitas industri. Sebaliknya, 50 ke bawah menjadi indikator kontraksi.


"Situasi epidemi dan ekonomi global masih parah dan kompleks, dan permintaan pasar luar negeri tengah merosot," ujar Ahli Statistik Senior NBS Zhai Qinghe dikutip dari AFP, Minggu (31/5).

Zhao mengungkapkan indeks pesanan baru ekspor dan impor masih berada di level rendah.

Memang, pemulihan ekonomi masih berlangsung dan terus membaik. Namun, kata dia, ada kelemahan pada beberapa industri seperti tekstil dan apparel.

Sementara itu, PMI untuk sektor non-manufaktur naik tipis dari April menjadi 53,6. Perbaikan itu dipicu oleh sektor jasa dan konstruksi yang menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

Kendati demikian, aktivitas bisnis pada sektor budaya, olah raga dan hiburan masih rendah mengingat banyak lokasi hiburan yang ditutup untuk mencegah gelombang kedua penyebaran virus corona.

[Gambas:Video CNN]

"Dengan proyeksi penurunan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II sebesar 15 persen secara tahunan untuk negara maju di Eropa dan Amerika, ekspor China sepertinya harus siap merosot," tulis laporan analis Nomura.

Nomura menambahkan dorongan dari peningkatan permintaan kebutuhan kesehatan terkait virus corona pada beberapa minggu terakhir juga tidak mampu mengimbangi tantangan eksternal.

Selain itu, ekspor alat kesehatan juga diprediksi tidak akan berkelanjutan karena banyak negara yang mulai memproduksi sendiri di tengah meningkatkan jumlah kasus.




(afp/sfr)