PSBB Buat Inflasi Melambat ke 0,07 Persen pada Mei 2020

CNN Indonesia | Selasa, 02/06/2020 11:49 WIB
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto Saat Menyampaikan Data Ekspor-Impor di Gedung BPS, Jumat (15/12). BPS menyebut inflasi Mei 2020 melambat 0,07 Persen disebabkan virus corona. (CNN Indonesia/Galih Gumelar).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat atau inflasi sebesar 0,07 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Mei 2020. Inflasi lebih rendah dari posisi April 2020 yang sebesar 0,08 persen dan Mei 2019 yang sebesar 0,68 persen.

Sementara inflasi secara tahun berjalan (year-to-date/ytd) sebesar 0,09 persen. Sedangkan secara tahunan (year-on-year/yoy) mencapai 2,19 persen pada April 2020.

"Inflasi Mei 2020 kecil sekali yaitu 0,07 persen. Ini sangat jauh pada Idul Fitri tahun lalu. Ini pola yang tidak biasa," ujar Kepala BPS Suhariyanto, Selasa (2/6).


Ia bilang ada penurunan permintaan sepanjang Mei 2020 akibat kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di sejumlah daerah demi mengurangi penularan virus corona di dalam negeri. Kebijakan PSBB, kata Suhariyanto, membuat pendapatan masyarakat ikut berkurang.

"Karena PSBB maka aktivitas sosial turun, pendapatan masyarakat turun. Itu yang menyebabkan permintaan turun," jelas Suhariyanto, Selasa (2/6).

Suhariyanto mengatakan inflasi tertinggi berasal dari kelompok transportasi dengan andil 0,1 persen dan inflasi 0,87 persen. Sumbangan inflasi lainnya berasal dari kelompok kesehatan dengan andil 0,01 persen dan inflasi sebesar 0,27 persen.

Lalu, inflasi lainnya terjadi di kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,12 persen. Kemudian, kelompok penyediaan makanan dan minuman juga tercatat inflasi sebesar 0,08 persen.

Sementara itu, sejumlah kelompok justru menyumbang deflasi. Salah satunya adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang tercatat deflasi sebesar 0,32 persen.

[Gambas:Video CNN]
"Yang menyumbang deflasi itu cabai merah dan telur ayam ras," imbuh Suhariyanto.

Berdasarkan komponennya, inflasi terjadi berkat sumbangan dari inflasi inti sebesar 0,06 persen dan andil 0,04 persen. Lalu, komponen harga diatur pemerintah (administered price) inflasi 0,67 persen dan komponen bergejolak (volatile foods) dengan deflasi 0,5 persen.

Komponen volatile foods, terdiri dari komponen energi dengan inflasi 0,08 persen dan komponen bahan makanan dengan deflasi 0,13 persen dan andil minus 0,49 persen.

Berdasarkan wilayah, inflasi terjadi di 67 kota dari 90 kota IHK. Sementara 23 kota lainnya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Tanjungpandan sebesar 1,2 persen dan terendah di Tanjungpinang, Bogor, dan Madiun sebesar 0,01 persen. Kemudian, deflasi tertinggi di Luwuk sebesar 0,39 persen dan terendah di Manado 0,01 persen.

(aud/agt)