Peneliti CIPS Pingkan Audrine Kosijungan mengatakan ekonomi dalam negeri akan semakin terpuruk jika konsumsi masyarakat pada kuartal II hingga IV tahun ini belum juga terangkat. Produksi dan distribusi barang atau jasa juga akan terkena imbasnya.
"Berdasarkan kelompok pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2020 sebesar 2,97 persen dengan kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap pertumbuhan ekonomi 1,56 persen, turun dari kuartal sebelumnya 5,02 persen," papar Pingkan dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (4/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, sambung Pingkan, pemerintah tengah memberikan sinyal untuk memberlakukan kebijakan kenormalan baru alias new normal. Kebijakan itu seakan menjadi 'jalan keluar' pemerintah untuk menggerakkan kembali roda perekonomian dalam negeri.
"Dengan adanya pemberlakuan penyesuaian terhadap kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dapat mulai mendorong aktivitas ekonomi dan sosial secara perlahan, diiringi dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat," kata Pingkan.
"IHSG ditutup menguat 1,98 persen ke level 4.874 pada 2 Juni 2020. Investor asing kembali mencatatkan aksi beli bersih pada 3 Juni 2020 sebesar Rp69 miliar di pasar reguler," jelas Pingkan.
Pergerakan indeks juga sejalan dengan rupiah yang semakin kokoh. Rupiah kini bertengger di area Rp14 ribu hingga Rp14.100 per dolar Amerika Serikat (AS).
"Sepanjang Maret 2020 lalu rupiah melemah sebesar 14,31 persen terhadap dolar AS. Ini menunjukkan rupiah bangkit," ujar Pingkan.
[Gambas:Video CNN]
Pingkan menyatakan kebijakan new normal membangkitkan kembali semangat investor untuk menempatkan dananya di Indonesia. Dengan aliran modal asing itu, IHSG dan rupiah bergerak di zona hijau.
"Implementasi new normal perlu terus dijaga dan ditingkatkan kesiapannya untuk menjaga sentimen positif dan menjaga kepercayaan investor terhadap pasar," terang dia.
Namun, ia mengingatkan agar pemerintah tak lupa untuk fokus menangani penyebaran virus corona. Jangan sampai, kurva penularan virus tersebut justru kembali meningkat tajam setelah kebijakan new normal berlangsung.