Menurut sejumlah nasabah, bank swasta itu meminta nasabah melakukan konfirmasi sejak dua hari sebelum alias H-2 penarikan dana. Terutama, untuk penarikan dana tunai di atas Rp10 juta mulai 2 Juni lalu.
"Ada apa dengan Bank Bukopin? Kenapa nasabah gak bisa ambil duit? Bagaimana dengan bank lain? BPD Banten, Mayapada, dll?" tulis salah satu nasabah, Haris Rusly Moti melalui akun Twitter pribadinya, @motizenchannel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu, juga terdiri dari penempatan dana di Bank Indonesia (BI) Rp4,52 triliun, penempatan dana di bank lain Rp690,87 miliar, surat berharga Rp1 triliun, dan surat berharga yang dibeli dengan janji dijual kembali atau repo Rp8,84 triliun.
Sementara Cadangan Kerugian Penurunan Aset (CKPN) berkisar Rp1,69 triliun.
Sumber likuiditas bank berasal dari giro Rp8,45 triliun, tabungan Rp17,76 triliun, dan deposito Rp41,89 triliun. Kemudian, juga berasal dari pinjaman bank lain Rp1,53 triliun, utang atas repo surat berharga Rp8,87 triliun, surat berharga yang diterbitkan Rp1,79 triliun, dan pinjaman Rp702,68 miliar.
Secara total, liabilitas Bank Bukopin sebesar Rp83,99 triliun. Sementara, ekuitas Rp8,44 triliun. Ekuitas terdiri dari modal disetor Rp1,37 triliun, tambahan modal disetor Rp2,92 triliun, dan lainnya. Operasional bank masih membukukan laba berjalan sekitar Rp177,76 miliar.
Kemudian, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) gross meningkat dari sebelumnya 5,23 persen menjadi 5,33 persen. Sedangkan NPL net turun dari 3,54 persen menjadi 3,4 persen. Data NPL ini berdasarkan laporan kinerja tidak diaudit per 31 Maret 2020.
Perusahaan tercatat mampu menurunkan Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) dari 97,72 persen menjadi 95,9 persen. Dengan margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) meningkat dari 2,09 persen menjadi 2,44 persen.
[Gambas:Video CNN]
(uli/bir)