Ia justru khawatir jika kerja sama tetap dilanjutkan akan timbul kerugian negara yang disebabkan oleh rendahnya valuasi yang ditawarkan Aramco atas proyek tersebut.
"Memang deal-nya tidak terjadi. Kalau Aramco menawar kilang eksisting kami terlalu murah, bedanya itu US$1 miliar lebih, kalau harga aset negara dihargai lebih murah, ini kan masalah. Masalah ini, kerugian negara, lebih baik tidak deal," ujarnya dalam diskusi virtual, Senin (15/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, hingga memasuki tahun 2020, belum ada titik temu antara kedua pihak. Padahal, Kilang Cilacap telah mampu memproduksi Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan kualitas Euro IV.
Nicke menyampaikan bahwa Pertamina kini tengah mencari partner baru untuk pengembangan kilang Cilacap. Nantinya proyek tersebut akan diintegrasikan dengan proyek Petrokimia yang dikembangkan Pertamina bersama China Petroleum Corporation (CPC) Taiwan.
"Kalau cuma membangun kilang memang kurang menarik. Tapi kan yang kami bangun bukan hanya kilang. Kami membangun kilang minyak yang diintegrasikan dengan pabrik petrokimia," imbuhnya.
Bisnis Petrokimia tersebut, lanjut Nicke, juga akan jadi salah satu andalan Pertamina ke depan ketika fosil fuel atau BBM mengalami penurunan permintaan. "Kalau BBM demand-nya turun maka kilang ini akan kita ubah menjadi produk produk Petrokimia," pungkasnya.
(hrf/agt)