Mal Buka, Aprindo Sebut Ritel Sepi karena Daya Beli Turun

CNN Indonesia | Selasa, 16/06/2020 10:33 WIB
Sejumlah pusat perbelanjaan atau mal di Jakarta terlihat sepi pada hari kedua Lebaran, Senin (25/5) Aprindo menilai pemulihan sektor ritel dari pandemi virus corona akan berjalan lambat di tengah turunnya daya beli masyarakat. Ilustrasi. (CNN Indonesia/ Yogi Anugrah).
Jakarta, CNN Indonesia -- Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) memperkirakan pemulihan bisnis ritel akan berjalan lambat tahun ini meski pemerintah sudah mengizinkan pusat perbelanjaan kembali dibuka.

Ketua Umum Aprindo Roy N Mandey mengatakan lambatnya pemulihan bisnis ritel tak lepas dari kondisi daya beli masyarakat. Jelang new normal, ia pesimistis warga akan langsung membelanjakan uangnya untuk barang-barang konsumtif.

Terlebih, banyak sektor pekerjaan tutup yang berdampak pada ribuan tenaga kerja dirumahkan selama pandemi Covid-19.


"Masyarakat yang dirumahkan ini berpengaruh, karena mereka pasti akan lebih memilih saving untuk kebutuhan pokok," ucapnya kepada CNNIndonesia.com Senin(15/6).

Kendati demikian, ia berharap jelang akhir tahun masyarakat mengeluarkan uang lebih banyak untuk berbelanja, yakni pada masa liburan natal dan tahun baru.

Dengan begitu, industri ritel tetap dapat bertumbuh di tahun ini walau tak akan setinggi tahun lalu.

"Semester II memang akan kelihatan geliatnya, walaupun tidak sekaligus. Tapi harus optimis karena masih ada sesi di akhir tahun, natal dan tahun baru. Diharapkan pada saat itu aktivitas belanja sudah mulai normal," ucapnya.

Roy menuturkan, pertumbuhan ritel nasional tahun ini diproyeksikan hanya mencapai 3 sampai 3,5 persen, atau merosot dibandingkan tahun lalu yang tumbuh 8 persen.

Pada semester pertama 2020, pertumbuhan ritel modern telah tergerus hingga 60 persen akibat rendahnya daya beli yang disebabkan oleh banyaknya karyawan yang dirumahkan serta kekhawatiran orang untuk keluar rumah.

Ia menengarai sekitar 40 ribu gerai dari 600 anggota Aprindo yang sempat berhenti beroperasi. Hal ini otomatis membuat penjualan dan omzet ritel juga menurun.

Ia berharap pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) membuat orang kembali berbelanja ke ritel modern sehingga pertumbuhan penjualan tidak menjadi negatif.

Terlebih, daerah-daerah sekitar Jakarta sudah melakukan pelonggaran PSBB dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

[Gambas:Video CNN]

Roy juga memastikan anggota dalam Aprindo telah menyiapkan berbagai strategi untuk menggenjot penjualan di sisa tahun 2020 ini.

"Khususnya yang di Jakarta. Karena kita sudah masuk PSBB transisi menuju new normal yang aman sehat. Tak hanya bagi konsumen tapi juga bagi karyawan. Kami memang menjaga protokol kesehatan ini dapat dilakukan dan orang antusias berbelanja," pungkasnya.

(hrf/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK