Pengusaha Angkutan Darat Rugi Rp9 T per Bulan Akibat Corona

CNN Indonesia | Jumat, 19/06/2020 19:50 WIB
Sejumlah warga antre masuk bis antar provinsi untuk mudik lebih awal di Terminal Bis Pakupatan, Serang, Banten, Kamis (23/4/2020). Meski pemerintah melarang mudik lebaran tahun 2020, sejumlah warga tetap pulang ke kampung halamannya sebelum puasa dengan alasan sudah tidak ada pekerjaan meski nantinya harus menjalani isolasi mandiri.  ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman/nz Pengusaha angkutan darat mengaku rugi Rp9 triliun akibat penyebaran virus corona belakangan ini. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman).
Jakarta, CNN Indonesia --

Organisasi Angkutan Darat (Organda) menyebut anggotanya rugi Rp9,05 triliun per bulan akibat penyebaran virus corona di dalam negeri. Kerugian terbesar terjadi pada Maret-April.

Kerugian terjadi akibat penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama penyebaran virus corona. Ketua Umum DPP Organda Adrianto Andre Djokosoetono mengatakan kebijakan itu membuat pebisnis angkutan kehilangan penumpang. Ia mengatakan kerugian tersebut berpotensi masih akan bertambah.

Ia pesimis pendapatan anggotanya dapat kembali lagi seperti semula walaupun pemerintah sudah mulai melonggarkan kebijakan PSBB.


"Kami di angkutan penumpang dampaknya paling besar Maret-April per bulan lost revenue (hilang pendapatan) Rp9,05 triliun," ucapnya lewat video conference di konferensi daring Markplus Industry Roundtable pada Jumat (19/6).

Ia merinci kerugian terbesar dialami oleh angkutan bus antar kota dan provinsi (AKDP). Menurutnya, kerugian pelaku usaha AKDP mencapai Rp3,27 triliun pada periode tersebut.

Kerugian terbesar dipicu oleh larang operasi yang diterapkan pemerintah pada masa PSBB Jabodetabek. Kemudian, kerugian terbesar kedua diikuti oleh bus antar kota antar provinsi (AKAP) yang menanggung rugi sebesar Rp2,91 triliun.

Sedang kerugian lain dialami pelaku usaha angkutan pariwisata. Kerugian mencapai Rp1,36 triliun. Kerugian tersebut, lanjutnya, merupakan angka di luar angkutan barang yang bergerak bervariasi mengikuti inovasi dan adaptasi perusahaan masing-masing.

Ia mengatakan agar kerugian tak semakin menjadi, Organda meminta anggotanya untuk lebih getol berinovasi. Inovasi salah satunya bisa dilakukan dengan seperti menyediakan layanan berbasis teknologi agar dapat keluar dari krisis pandemi covid-19.

"Seberapa cepat anggota kami bisa berinovasi melakukan layanan tambahan melihat permintaan yang berkembang dalam jangka pendek-panjang," sambungnya.

[Gambas:Video CNN]

Sementara itu Wakil Ketua III Dewan Pembina Darah Organda DKI Petrus Tukimin mengatakan di tengah kerugian tersebut, pelaku usaha angkutan darat mendapatkan beban baru. Beban datang dari imbauan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) kepada pengusaha angkutan untuk memasang lampu ultraviolet untuk mencegah penularan covid-19 di bus sedang maupun kecil.

"Sudah pasti akan keberatan, karena harganya kan enggak murah. Belum lagi jumlahnya sekarang angkutan udah berkurang karena banyak yang tutup," katanya.

(wel/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK