Mengenal Mineral Rare Earth yang Dibahas Luhut dan Prabowo

CNN Indonesia | Selasa, 23/06/2020 08:00 WIB
Pekerja menunjukkan hasil pencucian timah di area pengolahan PT Timah (Persero) Tbk, Bangka, Sabtu (7/11). Berdasarkan data International Technologi Research Institute, total produksi timah Indonesia pada tahun 2008-2013 mencapai 593.304 ton dan 352.000 ton diantaranya merupakan hasil dari penambangan ilegal. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/ama/15 Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Panjaitan dan Menhan Prabowo Subianto membahas rare earth pekan lalu. Rare earth merupakan ekstrak timah yang bisa jadi bahan pembuatan senjata. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari).
Jakarta, CNN Indonesia --

Istilah rare earth atau logam tanah jarang mengemuka ke publik. Hal itu terjadi setelah Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto bertemu pekan lalu.

Keduanya membahas soal potensi rare earth di Indonesia.

Lantas apa itu rare earth?


Luhut mengatakan rare earth merupakan komoditas mineral hasil ekstrak tin atau timah. Komoditas itu kemudian bisa disulap untuk campuran kebutuhan pembuatan magnet, elektronik, hingga senjata.

"Kemarin saya juga bicara dengan Menhan (Prabowo Subianto), tin itu kita juga bisa ekstrak dari situ (tin) rare earth," ungkap Luhut, Senin (22/6).

Sayangnya, pengembangan industri pengolahan rare earth masih belum besar di Indonesia. Padahal, potensinya cukup besar karena Indonesia merupakan salah satu penghasil timah di dunia, yaitu di Bangka Belitung.

Hal ini juga tercermin dari belum ada harga acuan komoditas ini di dalam negeri. Saat ini, kata Luhut, harga rare earth mengikuti perkembangan pasar komoditas Singapura.

"Sekarang saya bilang kenapa harga rare earth mesti ditentukan di Singapura, kenapa tidak di Indonesia?" katanya.

[Gambas:Video CNN]

Saat ini, beberapa negara sudah mengembangkan pengolahan rare earth sebagai kebutuhan industri. Negara itu antara lain, China, Amerika Serikat, India, Brasil, Australia, Afrika Selatan, hingga Malaysia yang memiliki cadangan rare earth.

Namun, produksi terbesar ada di China. Totalnya mencapai 95 persen dari total produksi di dunia. Sementara cadangan rare earth di Negeri Tirai Bambu diperkirakan mencapai 36 juta ton atau setara 30 persen dari total cadangan di dunia sebanyak 99 juta ton.

Menurut Menteri Perindustrian Agus Gumiwang, mineral seperti ini perlu dikembangkan di dalam negeri melalui hilirisasi dan larangan ekspor. Tujuannya untuk meningkatkan nilai tambah dari rare earth tersebut.

Selain itu, hilirisasi industri bisa menciptakan lapangan kerja dan pengembangan sektor industri yang selanjutnya memberi dampak positif pada perekonomian nasional.

(uli/agt)