Alasan Unilever Boikot Iklan di Facebook dan Twitter

Christine Novita Nababan, CNN Indonesia | Senin, 29/06/2020 07:02 WIB
TO GO AFP STORY BY JULIETTE RABAT - A picture taken on June 5, 2015 shows the logo of Unilever at the headquarters in Rotterdam. Unilever is a multinational company in the field of food, personal care and cleaning products. In 1930, Lever Brother, a British soap maker and Margarine, a Dutch company, merged to optimize their requirements and create the multinational Unilever. AFP PHOTO / JOHN THYS / AFP PHOTO / JOHN THYS Unilever menegaskan tidak akan memasang iklan di Facebook, Twitter, dan Instagra karena maraknya unggahan mengenai politik dan ujaran kebencian. (AFP PHOTO /John Thys).
Jakarta, CNN Indonesia --

Unilever menegaskan tidak akan memasang iklan di Facebook, Twitter, serta Instagram hingga akhir tahun nanti. Akibat pernyataan itu, saham raksasa platform media sosial tersebut rontok hingga lebih dari 7 persen pada akhir pekan lalu.

Sebetulnya, apa alasan Unilever memutuskan membatasi iklan di Facebook dkk?

Mengutip The Wall Street Journal yang dilansir CNN.com, Minggu (28/6), Unilever 'gerah' dengan maraknya unggahan pengguna media sosial Facebook, Twitter, dan Instagram yang kerap membahas kondisi politik yang terpolarisasi, termasuk embel-embel ujaran kebencian.


Luis melanjutkan pihaknya akan terus mengawasi dan meninjau ulang keputusan pembatasan iklan ke depannya seiring dengan perilaku masyarakat.

"Berdasarkan pada kondisi polarisasi saat ini dan pemilu yang akan berlangsung di AS, maka perlu ada lebih banyak penegakan dalam hal ujaran kebencian," ujar Wakil Presiden Eksekutif Media Global Unilever Media Global Luis Di Cimo.

Unilever yang menaungi merek produk harian dari pasta gigi, sabun hingga sampo, yang banyak digunakan masyarakat, diketahui memiliki anggaran iklan tahunan mencapai US$8 juta.

Komitmen Unilever dalam memasang iklan di Facebook juga sangat tinggi. Bahkan, perusahaan produk konsumen itu menduduki peringkat pengiklan ke-30 tertinggi di Facebook pada 2019, yang diperkirakan menggelontorkan pundi uang hingga US$42 juta ke platform besutan Mark Zuckerberg itu.

Saham Facebook terperosok hingga 8,3 persen menjadi US$216,08 per lembar pada Jumat (26/6) lalu, sedangkan saham Twitter anjlok 7,4 persen menjadi US$29,05.

Keputusan Unilever juga dikhawatirkan dapat memberikan efek domino yang mengakibatkan beberapa perusahaan memutuskan hal serupa pada platform raksasa media sosial.

Bahkan perusahaan rival Unilever, Procter & Gamble juga dilaporkan akan menarik iklan dari platform media sosial yang membiarkan konten ujaran kebencian atau konten diskriminatif merajalela.

Beberapa perusahaan yang telah memboikot facebook juga akan menangguhkan iklan hingga setidaknya Juli atau bulan depan.

Merespons kondisi tersebut, Wakil Presiden Solusi Klien Twitter Sarah Personette mengungkapkan Twitter tetap menjadi saran masyarakat menjalin komunikasi dan membangun koneksi.

Dalam hal ini, Twitter tetap memfasilitasi penggunanya untuk mengemukakan pendapat pribadi dengan bebas dan aman, terutama pendapat minoritas atau kaum marjinal.

"Kami menghormati keputusan mitra kami dan akan terus bekerja dan berkomunikasi secara dekat dengan mereka selama waktu ini," terang Personette.

[Gambas:Video CNN]



(bir)