IHSG Berpotensi Bangkit Ditopang Rilis Inflasi Hari Ini

CNN Indonesia | Rabu, 01/07/2020 06:35 WIB
Papan monitor pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa efek Indonesia, Jakarta, 27 Februari 2019. Pada pembukaan  saham sesi pertaman , Rabu (27/2/2019), IHSG melemah 8,915 poin (0,10%) ke 6.535,136. Indeks LQ 45 berkurang 1,715 poin (0,17%) ke 1.023,207. CNN Indonesia/Hesti Rika IHSG diperkirakan berada di rentang 4.879 hingga 5.000 atau menguat ditopang rilis inflasi BPS yang diperkirakan terjaga rendah. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia --

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi menguat pada perdagangan hari ini, Rabu (1/7). Penguatan indeks saham diperkirakan ditopang oleh ekspektasi para pelaku pasar terhadap tingkat inflasi Indonesia yang terjaga rendah. 

Analis Reliance Sekuritas Lanjar Nafi Taulat Ibrahimsyah mengatakan pelaku pasar berekspektasi tingkat inflasi akan berada di kisaran 1,9 persen sampai 2,19 persen secara tahunan pada Juni 2020.

Sementara, rilis inflasi dari Badan Pusat Statistik (BPS) baru akan diumumkan pada siang nanti, pukul 11.00 WIB. 


"Tingkat inflasi akan ikut meramaikan data ekonomi yang akan menjadi sentimen selanjutnya untuk IHSG," ungkap Lanjar. 

Dari global, sentimen datang dari penguatan bursa saham Asia. Saham Nikkei 225 di Jepang menguat 1,33 persen pada Selasa (30/6) kemarin. 

Begitu pula dengan CSI 300 1,32 persen, Shanghai Composite 0,78 persen, TOPIX 0,62 persen, dan Hang Seng 0,52 persen.

Sama halnya dengan penguatan di bursa saham Wall Street, seperti Nasdaq Composite yang menguat 1,87 persen, S&P 500 1,54 persen, dan Dow Jones 0,85 persen. 

Proyeksinya, IHSG akan berada di rentang 4.879 sampai 5.000 pada hari ini. "IHSG akan kembali bergerak pada zona positif melanjutkan tren jangka menengah," kata Lanjar.

Analis Indosurya Sekuritas William Surya Wijaya juga memperkirakan IHSG berada di zona positif pada hari ini. Proyeksinya, IHSG bergerak di kisaran 4.789 sampai 4.971. 

"Mengawali semester II 2020, pergerakan IHSG terlihat masih betah berada dalam rentang konsolidasi wajar," jelasnya.

Menurutnya, tren positif masih bisa berlanjut, meski sentimen aliran modal asing yang keluar (capital outflow) dari Indonesia masih menyelimuti pasar modal.

Namun, William melihat kondisi ini justru bisa dimanfaatkan oleh sebagian investor untuk tetap melakukan pembelian saham dengan target jangka pendek sesuai perkembangan perekonomian Tanah Air yang masih dalam kondisi stabil. 

[Gambas:Video CNN]



(uli/bir)