Pengusaha Mesir Lirik Investasi Kopi di Indonesia

CNN Indonesia | Kamis, 02/07/2020 22:57 WIB
Suasana di Kopikina, Tebet, Jakarta, Rabu, 17 Juni 2020. Industri kopi menjadi salah satu yang terdampak akibat mewabahnya virus Covid-19, berbagai cara dilakukan para pelaku bisnis kopi untuk tetap bertahan, diantaranya memfokuskan penjualan secara online dan mengeluarkan produk baru seperti kopi kemasan 1 liter. CNN Indonesia/Bisma Septalisma Importir Mesir tertarik menanamkan modal di bisnis kopi karena mayoritas kopi di Negeri Piramida berasal dari Indonesia. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pengusaha asal Mesir mengaku tertarik untuk investasi pada komoditas kopi di Indonesia. Pasalnya, mayoritas kopi di Mesir atau sekitar 80 persen didatangkan dari Tanah Air.

Informasi tersebut disampaikan oleh seorang importir kopi asal Mesir Hassan Haggag, dalam diskusi webinar, Kamis (2/7). Ia menuturkan importir kopi asal Mesir ingin berkolaborasi dengan petani kopi lokal Indonesia.

"Para importir yang awalnya impor kopi dari Indonesia, saat ini memikirkan ke depannya untuk investasi di Indonesia, memiliki lahan kopi dan mendapatkan bibit kopi unggulan," ujarnya.


Namun, ia mengaku importir masih memiliki kendala ketika mendatangkan kopi dari Indonesia. Salah satunya terkait pengiriman barang di pelabuhan. Ia mengatakan barang impor dari Indonesia dikenai tarif kurang lebih US$15 ribu untuk tiap kontainernya ketika sampai di pelabuhan Mesir.

Oleh sebab itu, ia berharap Kementerian Perdagangan bisa mengurai persoalan tersebut dengan pemerintah Mesir.

"Kami harap terdapat kesepahaman antara pemerintah Indonesia dan Mesir bagaimana petani kopi ini mendapatkan kemudahan ekspor sehingga petani kopi bisa meningkatkan ekspor ke Mesir," imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Kasan mengungkapkan potensi ekspor ke Mesir masih menjanjikan. Sebab, pasar ekspor di Mesir masih bisa dikembangkan.

"Ini menjadi catatan sendiri bahwa ekspor dan akses ke negara tujuan ekspor termasuk Mesir ini sangat menjanjikan," tuturnya.

Data Kementerian Perdagangan mencatat nilai importasi Mesir pada 2019 mencapai US$71 miliar di 2019. Dari jumlah tersebut, Indonesia baru mengisi US$1 miliar atau hanya 1,5 persen dari total impor Mesir tahun lalu.

Lebih lanjut, produk ekspor yang masih mendominasi ke Mesir adalah produk makanan olahan. Nilainya mencapai US$224,37 juta dolar, setara 66,24 persen dari total ekspor Indonesia ke Mesir tahun lalu.

Dalam lima tahun terakhir, Kementerian Perdagangan mencatat tren pertumbuhan ekspor makanan olahan ke Mesir cukup positif yaitu rata-rata 36,78 persen. Namun, pada periode Januari hingga April 2020 pertumbuhannya turun ke level 5,1 persen-5,8 persen akibat pandemi covid-19.

[Gambas:Video CNN]

Oleh sebab itu, ia mengatakan Kementerian Perdagangan akan kembali mendorong pelaku usaha untuk melakukan ekspansi pasar ekspor ke Mesir. Ia menyatakan pihaknya akan mengidentifikasi produk potensial selain makanan olahan.

"Kami identifikasi untuk mengetahui produk apa yang selama ini bisa kami dorong dan perluas cakupannya sehingga market share makin besar dan menambah produk yang berhubungan dengan produk makanan olahan ini," ucapnya.

(ulf/sfr)