Efek Corona, Inggris Beri Rp28,9 T Bantu Industri Seni Budaya

AFP, CNN Indonesia | Senin, 06/07/2020 17:30 WIB
Natural History Museum, London, Inggris. (CNNIndonesia/Ardita Mustafa) Inggris akan memberikan US$2 miliar untuk membantu teater, galeri seni, museum dan lembaga budaya yang terdampak pandemi virus corona. Ilustrasi. (CNNIndonesia/Ardita Mustafa).
Jakarta, CNN Indonesia --

Inggris akan memberikan US$2 miliar atau setara Rp28,9 triliun (Kurs Rp14.467 per dolar AS) untuk membantu teater, galeri seni dan lembaga budaya yang terdampak pandemi virus corona.

Dikutip dari AFP, sektor seni dan budaya Inggris telah terpukul cukup keras karena pandemi corona. Hingga saat ini belum ada kejelasan pertunjukan akan diadakan di tengah pembatasan sosial.

Sehingga, pemerintah mengucurkan dana sekitar US$1,96 miliar untuk membantu museum dan istana bersejarah serta perusahaan yang terlibat dalam musik live dan bioskop independen.


"Uang itu merupakan investasi terbesar yang pernah ada dalam budaya Inggris. Uang tersebut akan memberikan garis hidup bagi organisasi budaya dan warisan vital di seluruh negeri yang sangat terpukul oleh pandemi," kata papar pemerintah Inggris, Senin (6/7).

Pengumuman itu menyusul seruan dari sekitar 1.500 aksi termasuk Ed Sheeran dan The Rolling Stones agar pihak berwenang menyelamatkan industri musik live negara itu dari kehancuran.

Pemerintah Inggris mencatat sektor seni dan budaya mempekerjakan hingga 700.000 orang.

Pada Mei lalu, Shakespeare's Globe, replika teater terbuka di London memperingatkan bahwa mereka bisa tutup karena tak memiliki dana darurat selama lockdown.

"Berita ini menyusul begitu banyak teater, orkestra, tempat hiburan dan organisasi seni lainnya menghadapi masa depan yang suram. Sangat penting bahwa sektor budaya Inggris dipulihkan," kata Andrew Lloyd Webber dari Shakespeare's Globe.

Inggris mencabut sejumlah pembatasan karena virus corona pada akhir pekan lalu. Pencabutan ini memungkinkan bioskop, galeri, museum, dan perpustakaan untuk menyambut masyarakat lagi setelah tiga bulan tutup.

Inggris memiliki angka kematian pandemi tertinggi di Eropa dengan lebih dari 44.000 kematian karena virus corona dan seperempat juta kasus yang dikonfirmasi.

[Gambas:Video CNN]



(age/agt)