IA-CEPA, Kerja Sama Bilateral Penghemat Kantong RI-Australia

CNN Indonesia | Selasa, 07/07/2020 11:07 WIB
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (25/6/2019).  Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2019 mengalami surplus sebesar 210 juta dolar AS dengan nilai ekspor mencapai 14,74 miliar dolar AS, sementara nilai impor mencapai 14,53 miliar dolar AS. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/foc. Mendag Agus meyakini kerja sama Indonesia-Australia dalam kerangka IA-CEPA akan menguntungkan kedua negara. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi).
Jakarta, CNN Indonesia --

Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif antara Indonesia dan Australia (Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement/IA-CEPA) yang efektif sejak 5 Juli 2020 tak hanya mempererat hubungan bilateral, namun juga menghemat kantong kedua negara.

Pada 2019, total perdagangan barang Indonesia-Australia mencapai US$7,8 miliar. Namun, neraca perdagangan Indonesia dengan Australia masih defisit sebesar US$3,2 miliar. Pasalnya, ekspor Indonesia sebesar US$2,3 miliar sementara impornya mencapai US$558 miliar.

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menyebut manfaat terbesar dari perjanjian kerja sama ini adalah tarif bea masuk nol persen ke pasar Negeri Kanguru. Hal ini akan memberi dampak peningkatan kinerja ekspor, baik dari sisi volume maupun nilai.


"Seluruh produk ekspor Indonesia ke Australia dihapuskan tarif bea masuknya. Untuk itu tarif preferensi IA-CEPA harus dimanfaatkan secara maksimal oleh para pelaku usaha Indonesia agar ekspor Indonesia meningkat," katanya beberapa waktu lalu.

Khususnya bagi produk ekspor unggulan, seperti otomotif, kayu dan turunannya termasuk kayu dan furnitur, perikanan, tekstil dan produk tekstil, sepatu, alat komunikasi, dan peralatan elektronik.

Begitu pula sebaliknya, produk Australia mendapat tarif bea masuk nol persen untuk masuk ke Tanah Air. Malah, produk-produk Australia yang masuk dengan bebas tarif bisa menambah daya saing industri nasional. Sebab, Indonesia banyak mengimpor bahan baku dari negara tetangga. Khususnya, produk berbasis komoditas pangan.

Produk-produk ini merupakan bahan baku untuk industri hotel, restoran, katering, hingga makanan dan minuman. Hal itu diharapkan bisa memperkecil biaya produksi, harga jual yang lebih terjangkau, hingga meningkatkan daya saing.

Demi mendukung IA-CEPA, pemerintah menerbitkan tiga aturan pendukung. Pertama, Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 63 Tahun 2020 tentang Ketentuan Asal Barang Indonesia dan Ketentuan Penerbitan Dokumen Keterangan Asal untuk Barang Asal Indonesia dalam Kemitraan Ekonomi Komprehensif antara Indonesia dan Australia.

Kedua, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 81/PMK.10/2020 tentang Penetapan Tarif Bea Masuk dalam rangka Persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia.

Ketiga, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 82/PMK.04/2020 tentang Tata Cara Pengenaan Tarif Bea Masuk atas Barang Impor Berdasarkan Persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia.

Lebih lanjut, kedua negara akan mengimplementasikan kerja sama dalam bentuk kolaborasi 'economic powerhouse'. Misalnya, bahan baku gandum didatangkan dari Australia. Lalu, diolah di Indonesia menjadi produk makanan olahan.

[Gambas:Video CNN]

Kemudian, hasilnya akan diekspor ke Timur Tengah. Rencananya, konsep kolaborasi ini juga akan diterapkan di industri software (perangkat lunak), perfilman, efek, dan animasi, hingga lainnya.

Tak hanya bagi kelangsungan perdagangan dan industri, ia memastikan berlakunya IA-CEPA akan memberikan manfaat yang lebih luas bagi kedua negara. Sebab, kerja sama yang dituangkan dalam IA-CEPA cukup beragam.

"IA-CEPA merupakan perjanjian yang komprehensif dengan cakupan yang tidak terbatas pada perdagangan barang, namun juga mencakup perdagangan jasa, investasi dan kerja sama ekonomi. Cakupan IA-CEPA yang komprehensif akan mendorong RI dan Australia menjadi mitra sejati menciptakan jejaring supply global," jelasnya.

(wel/sfr)