EDUKASI KEUANGAN

Menimbang Untung-Rugi Investasi Emas Saat Harga Tinggi

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Sabtu, 11/07/2020 09:13 WIB
Tangan petugas menunjukan deretan logam mulia di Jakarta, Kamis (21/5). Harga jual dan beli kembali (buyback) emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada perdagangan hari ini masih stagnan, dengan harga jual emas di Rp557.000/gram dan harga buyback emas perseroan tetap di Rp497.000/gram. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/ed/pd/15. Harga emas dunia meroket ikut mengkerek harga emas antam hingga hampir Rp1 juta per gram.(ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga emas di pasar internasional kembali meroket akhir-akhir ini. Bahkan, harga emas sempat menyentuh kisaran US$1.900 per troy ons dan mencetak rekor tertinggi setelah 2011, sebelum akhirnya kembali lagi ke kisaran US$1.800 per troy ons.

Hal ini pun berdampak pada harga emas di dalam negeri, misalnya yang diperjualbelikan oleh PT Antam (Persero) Tbk. Harga beli emas Antam yang semula berada di kisaran Rp800 ribu, kini sudah nyaris Rp1 juta per gram, tepatnya Rp937 ribu per gram pada Jumat (10/7).

Lantas, apakah ini saatnya berinvestasi di emas? Bagaimana potensi keuntungannya ke depan?


Menurut Perencana Keuangan dari Tatadana Consulting Tejasari Assad kenaikan harga emas belakangan ini memang cukup menggiurkan untuk investasi. Apalagi bila kekhawatiran terhadap gelombang kedua virus corona atau covid-19 masih ada.

Suka tidak suka, sentimen negatif ini yang berhasil membuat harga emas naik. Sebab dari sentimen ini, investor pasar keuangan menjadi panik dan memindahkan dananya dari pasar saham ke emas yang dianggap lebih aman.

"Dengan ketakutan terhadap rekor-rekor jumlah kasus baru dan ekonomi yang tidak kunjung pulih, pasar goyang, saham naik turun, dolar AS naik, rupiah dari Rp13 ribu sekarang Rp14 ribu lagi, investor lari ke emas dan harganya naik," ujar Teja kepada CNNIndonesia.com.

Kendati begitu, Teja mengatakan sebaiknya masyarakat tak buru-buru latah ingin mencicipi peluang keuntungan dari emas. Sebab, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum membeli emas dan bermimpi dapat untung.

Pertama, menurutnya, pembelian emas justru tidak cukup tepat dilakukan saat ini ketika harga beli emas nyaris menyentuh Rp1 juta per gram.

Kenapa? Pasalnya, harga sudah terlalu tinggi.

Menurut Teja, justru lebih baik masyarakat menunggu harga emas mereda dulu sebelum akhirnya nanti bisa naik lagi ketika ketidakpastian akibat corona menyelimuti perekonomian. Bila harga beli sudah agak turun, barulah emas cocok dibeli.

Misalnya, saat ini sudah di kisaran Rp937 ribu per gram, maka tunggulah sampai harga sedikit di bawah Rp900 ribu per gram. Sebab, ini akan mengacu pada alasan kedua, yaitu pertimbangan harga jual emas.

Saat ini, dengan harga beli Rp937 ribu, harga jual emas berada di kisaran Rp835 ribu per gram. Maka, ada selisih sekitar Rp100 ribu setelah membeli emas dan ketika ingin menjualnya.

"Kalau sekarang beli emas dengan harga tinggi, justru pas jual tidak bisa dengan harga yang sama. Jadi usahakan beli ketika harga beli lagi turun," katanya.

Ketiga, selisih harga jual dan beli ini membuat calon pembeli perlu menjadikan emas sebagai instrumen investasi jangka menengah, bukan pendek. Bila ingin investasi jangka pendek lebih baik ke reksadana daripada emas.

"Karena dalam waktu dekat tidak akan untung, masih ada gap dari selisih harga beli dan jual. Perlu kesabaran, kalau baru beli bentar langsung jual, untungnya tipis, bahkan lebih besar kemungkinan belum untung," terangnya.

Keempat, hitung dulu modal untuk tempat penyimpanan apalagi bila yang dibeli merupakan emas fisik. Maka, perlu ada tempat penyimpanan yang memadai agar emas tidak hilang dan rusak, begitu juga dengan keuntungan yang diharapkan.

Penyimpanan ini memang bisa dilakukan tanpa modal bila rumah aman, tapi risiko selalu ada. Bila ingin lebih aman, tentu perlu brankas atau bahkan Safe Deposit Box (SDB) di bank.

Nah, biayanya pun tidak sedikit. Umumnya, harga sewa SDB bank berkisar Rp400 ribu sampai Rp900 ribu sesuai ukuran. Namun, masih ada biaya penjaminan sekitar Rp750 ribu.

"Sebenarnya biaya penyimpanan bisa di-sharing dengan biaya penyimpanan dokumen penting lain, jadi tidak murni jadi modal untuk investasi emas, tapi tetap ada biaya yang harus dikeluarkan. Ini perlu diperhitungkan dengan return yang bisa didapatkan dari penjualan emas di kemudian hari," tuturnya.

Teja pun memberi saran, bila masyarakat ingin mencicipi peluang investasi emas, maka bisa dimulai dari emas online.

Emas ini banyak ditawarkan oleh berbagai perusahaan, mulai dari yang resmi seperti Antam dan PT Pegadaian (Persero), sampai yang hanya bekerjasama dengan mereka, misalnya Bareksa dan para e-commerce, seperti Tokopedia dan Bukalapak.

"Menurut saya, kalau mau coba-coba lebih baik dengan emas online ini, sehingga bisa dimulai dari nominal kecil, tidak perlu sampai beli satu gram dulu yang nyaris Rp1 juta, bisa dari nominal kecil, pelan-pelan ditabung," jelasnya.

Keuntungannya, kata Teja, tidak perlu ada biaya tempat penyimpanan. Bila emas sudah dibutuhkan, baru dicetak dan dikirimkan ke rumah. Bila ingin dijual bisa langsung secara digital tanpa harus pergi ke perusahaan jual beli emas.

Yang tak kalah menguntungkan, pembelian bisa di bawah satu gram. Bahkan, pembelian bisa menggunakan uang kembalian atau cashback dari promo yang kerap diberikan e-commerce.

"Ada di e-commerce yang dapat cashback misal Rp10 ribu, itu bisa dibelikan emas meski nol koma sekian gram, tapi itu bisa tidak berasa, sedikit-sedikit tapi menabung emas," ujarnya.

Namun, Teja mengingatkan jangan lupa memeriksa jaminan hukum dari emas yang dibeli. "Kalau di e-commerce bisa dilihat itu kerja sama dengan siapa, misal beli di Tokopedia, kerja samanya dengan Antam, maka aman," ucapnya.

Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia Andy Nugroho menambahkan fenomena tingginya harga emas saat ini lebih cocok dimanfaatkan dengan pembelian emas online.

Sebab, pembelian yang dicicil sedikit demi sedikit lebih memungkinkan keuntungan di kemudian hari daripada langsung membeli dalam jumlah besar sekarang ini.

"Jadi pelunasan sampai genap sekian gram itu bisa dicicil pelan-pelan, begitu genap dan ingin cetak emas, bisa saja harga sudah lebih tinggi," katanya.

Hanya memang, pembelian emas online mungkin memberi beban psikologis. Sebab, bentuk fisik tidak berada di tangan pembeli, sehingga bisa mempengaruhi minat investasi.

Belum lagi, tekanan ekonomi seperti saat ini sebenarnya bisa menimpa siapa saja, termasuk e-commerce berstatus unicorn sekalipun.

"Minusnya karena tidak pegang fisik, mungkin jadi was-was, padahal colaps itu bisa menyerang perusahaan mana saja, termasuk yang sudah unicorn," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]



(age)