EDUKASI KEUANGAN

Berinvestasi di Sektor Pertanian dengan Modal Rp100 Ribu

Ulfa Arieza, CNN Indonesia | Sabtu, 30/05/2020 08:42 WIB
Penukuran uang baru di Bank Indonesia cabang Thamrin, Jakarta, 10 Mei 2019. Bank Indonesia menyiapkan uang baru pecahan Rp2.000, Rp5.000, Rp10.000 dan Rp20.000 untuk menghadapi bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri 1440 H. CNN Indonesia/Hesti Rika Di era digital kita bisa berinvestasi di sektor pertanian dengan uang Rp100 ribu. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Siapa bilang berkecimpung di sektor pertanian harus terjun langsung mengolah tanah dan mencangkul? Melalui perkembangan teknologi finansial (financial technology/fintech) masyarakat bisa berkecimpung ke sektor pertanian dengan menjadi investor bagi petani Indonesia.

Contohnya, bisa dilihat dari fintech PT. Tani Fund Madani Indonesia atau TaniFund. Direktur TaniFund Edison Tobing mengatakan TaniFund menyediakan akses permodalan dan pasar untuk membantu petani.

Ini yang membedakan dengan perusahaan fintech lainnya. Untuk pemasarannya sendiri, TaniFund menyalurkannya kepada perusahaan induk mereka, yakni TaniHub yang merupakan marketplace produk pertanian.


"Kami berikan dana kepada petani, setelah selesai kultivasi produknya kami ambil lalu kami berikan ke grup kami sendiri yaitu TaniHub," ujarnya melalui video conference, Jumat (29/5).

Ia melanjutkan masyarakat bisa menjadi investor bagi petani hanya dengan modal Rp100 ribu melalui platform TaniFund. Saat ini, TaniFund telah menyalurkan pendanaan kepada 1.500 petani di seluruh Indonesia. Sedangkan jumlah pemberi pinjaman (lender) mencapai 2.200 yang didominasi investor individual.

"Rata-rata lender di area Pulau Jawa. Hampir 2.000 lender, sisanya di luar Pulau Jawa, dan orang luar negeri cuma tiga orang. Jadi menurut saya partisipasi Indonesia terhadap dunia pertanian masih limited (terbatas)," katanya.

TaniFund tercatat telah menyalurkan total pinjaman sebesar Rp116,4 miliar, sementara total pinjaman outstanding sebesar Rp30,43 miliar. Dari jumlah tersebut total pinjaman lunas mencapai Rp85,96 miliar. Sementara itu, rata-rata pengembalian sebesar 14,49 persen per annum (p.a).

Dalam kesempatan yang sama, VP of Corporate Services TaniHub Grup Astri Purnamasari menjelaskan TaniFund juga menawarkan imbal hasil kepada investor, sama halnya fintech pinjaman lainnya (peer to peer lending). Ia mengatakan besaran imbal hasil tergantung dari masing-masin produk pertanian.

TaniFund sendiri menyediakan informasi kepada investor melalui laman tanifund.com. Melalui laman tersebut, calon investor dapat melihat berbagai macam program pertanian yang ditawarkan.

"Kami juga memberi tahu masyarakat, bagi hasilnya ada semua di prospektus di website dan informasi proyek secara lengkap," ucapnya.

Sebagai contoh, program jamur tiram di Sukabumi, Jawa Barat. Melalui laman tersebut, TaniFund mencantumkan informasi dana terkumpul sebesar Rp15,7 juta. Lalu, tenor program selama tiga bulan mulai dari 31 Mei 2020 sampai 29 Agustus 2020.

Tak lupa, besaran bagi hasil yakni 15 persen p.a. TaniFund juga menyampaikan ulasan mengenai produk jamur tiram, prospek budidaya, risiko budidaya, serta profil singkat mengenai kelompok tani yang akan menjalankan program. Dengan demikian, calon investor dapat memahami secara mendalam prospek investasinya.

Selanjutnya,TaniFund melampirkan informasi lebih detail dalam prospektus untuk masing-masing program. Selain informasi dasar di atas, isi prospektus juga merincikan penggunaan penyertaan modal.

Sebagai contoh, untuk program jamur timur dengan kebutuhan modal sebesar Rp15,7 juta akan digunakan untuk tenaga kerja yakni Rp8,5 juta, bahan produksi Rp4,26 juta, dan perlengkapan Rp2,41 juta.

Prospektus juga menyampaikan proyeksi biaya produksi lebih rinci untuk tenaga kerja, bahan produksi, dan perlengkapan.

Selain itu, prospektus juga melampirkan proyeksi laba rugi sehingga investor bisa menghitung prediksi imbal hasil yang bakal diterima. Untuk program jamur tiram misalnya, target penjualan sebesar Rp29,26 juta sedangkan labanya mencapai Rp6,97 juta.

[Gambas:Video CNN]
Menariknya, dalam TaniFund mengajak serta petani untuk menyusun prospektus tersebut. Dengan demikian, petani juga turut mengembangkan kemampuan manajemen pertanian mereka dengan membuat proyeksi program pertaniannya.

"Ini keunikan TaniFund, sebenarnya bisa bisa saja kami kerjakan sendiri tapi nantinya tidak ada capacity building. Selain itu, kami juga membuat pendampingan secara teknis," ujar Astri.

Keuntungan Investasi di Sektor Pertanian

Dalam kesempatan itu, Edison juga membeberkan keuntungan investasi di sektor pertanian dibandingkan jasa keuangan lainnya. Menurutnya, keuntungan investasi di sektor pertanian adalah objek investasi dan peruntukan dananya jelas. Ini berbeda dengan investasi di saham misalnya, dimana investor tidak tahu secara detail penggunaan dana investasi mereka.

"Di TaniFund yang kami investasikan itu jelas. Kalau investasi di pasar saham dia tidak tahu uangnya di mana," katanya.

Selain itu, lanjutnya, pangan adalah kebutuhan mendasar masyarakat, sehingga dipastikan permintaan terhadap pangan selalu ada. Namun, ia tidak menampik terdapat tantangan bagi investasi di sektor pertanian, yakni faktor alam. Tetapi, faktor alam ini dapat diantisipasi dengan peningkatan kualitas teknologi pertanian.

Oleh sebab itu, TaniFund menempatkan para agronomis sebagai tim di lapangan. Mereka bertugas mendampingi petani selama masa tanam untuk menghasilkan panen maksimal.

"Mau pendanannya bagus bagus tapi kalau alam kering ya kering. Terus kalau misalnya dikasih hama ya kena juga. Oleh karena itu, di sini kami masuk dalam teknologi-teknologi pertanian dari awal," imbuhnya. (agt)