Contohnya, bisa dilihat dari fintech PT. Tani Fund Madani Indonesia atau TaniFund. Direktur TaniFund Edison Tobing mengatakan TaniFund menyediakan akses permodalan dan pasar untuk membantu petani.
Ini yang membedakan dengan perusahaan fintech lainnya. Untuk pemasarannya sendiri, TaniFund menyalurkannya kepada perusahaan induk mereka, yakni TaniHub yang merupakan marketplace produk pertanian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Trik Amankan THR di Tengah Pandemi Corona |
TaniFund tercatat telah menyalurkan total pinjaman sebesar Rp116,4 miliar, sementara total pinjaman outstanding sebesar Rp30,43 miliar. Dari jumlah tersebut total pinjaman lunas mencapai Rp85,96 miliar. Sementara itu, rata-rata pengembalian sebesar 14,49 persen per annum (p.a).
Dalam kesempatan yang sama, VP of Corporate Services TaniHub Grup Astri Purnamasari menjelaskan TaniFund juga menawarkan imbal hasil kepada investor, sama halnya fintech pinjaman lainnya (peer to peer lending). Ia mengatakan besaran imbal hasil tergantung dari masing-masin produk pertanian.
"Kami juga memberi tahu masyarakat, bagi hasilnya ada semua di prospektus di website dan informasi proyek secara lengkap," ucapnya.
Sebagai contoh, program jamur tiram di Sukabumi, Jawa Barat. Melalui laman tersebut, TaniFund mencantumkan informasi dana terkumpul sebesar Rp15,7 juta. Lalu, tenor program selama tiga bulan mulai dari 31 Mei 2020 sampai 29 Agustus 2020.
Tak lupa, besaran bagi hasil yakni 15 persen p.a. TaniFund juga menyampaikan ulasan mengenai produk jamur tiram, prospek budidaya, risiko budidaya, serta profil singkat mengenai kelompok tani yang akan menjalankan program. Dengan demikian, calon investor dapat memahami secara mendalam prospek investasinya.
Sebagai contoh, untuk program jamur timur dengan kebutuhan modal sebesar Rp15,7 juta akan digunakan untuk tenaga kerja yakni Rp8,5 juta, bahan produksi Rp4,26 juta, dan perlengkapan Rp2,41 juta.
Prospektus juga menyampaikan proyeksi biaya produksi lebih rinci untuk tenaga kerja, bahan produksi, dan perlengkapan.
Selain itu, prospektus juga melampirkan proyeksi laba rugi sehingga investor bisa menghitung prediksi imbal hasil yang bakal diterima. Untuk program jamur tiram misalnya, target penjualan sebesar Rp29,26 juta sedangkan labanya mencapai Rp6,97 juta.
[Gambas:Video CNN]
Menariknya, dalam TaniFund mengajak serta petani untuk menyusun prospektus tersebut. Dengan demikian, petani juga turut mengembangkan kemampuan manajemen pertanian mereka dengan membuat proyeksi program pertaniannya.
"Ini keunikan TaniFund, sebenarnya bisa bisa saja kami kerjakan sendiri tapi nantinya tidak ada capacity building. Selain itu, kami juga membuat pendampingan secara teknis," ujar Astri.
Keuntungan Investasi di Sektor Pertanian
Dalam kesempatan itu, Edison juga membeberkan keuntungan investasi di sektor pertanian dibandingkan jasa keuangan lainnya. Menurutnya, keuntungan investasi di sektor pertanian adalah objek investasi dan peruntukan dananya jelas. Ini berbeda dengan investasi di saham misalnya, dimana investor tidak tahu secara detail penggunaan dana investasi mereka.
"Di TaniFund yang kami investasikan itu jelas. Kalau investasi di pasar saham dia tidak tahu uangnya di mana," katanya.
Oleh sebab itu, TaniFund menempatkan para agronomis sebagai tim di lapangan. Mereka bertugas mendampingi petani selama masa tanam untuk menghasilkan panen maksimal.
"Mau pendanannya bagus bagus tapi kalau alam kering ya kering. Terus kalau misalnya dikasih hama ya kena juga. Oleh karena itu, di sini kami masuk dalam teknologi-teknologi pertanian dari awal," imbuhnya. (agt)