EDUKASI KEUANGAN

Kiat Kantong Tak Jebol Akibat Angkutan Mahal Kala New Normal

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Sabtu, 06/06/2020 08:34 WIB
ilustrasi rupiah dan dolar. Untuk menyiasati kenaikan harga tiket angkutan saat new normal, masyarakat perlu cermat dalam memilih berpergian atau jalan-jalan. Ilustrasi.(CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah berencana mengerek tarif angkutan bus antar kota antar provinsi (AKAP) pada penerapan tatanan normal baru atau new normal. Penyesuaian tarif dilakukan karena kapasitas angkut maksimal hanya 50 persen dari total kursi yang tersedia.

Bukan hanya bus. PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI juga akan menaikkan harga tiket kereta api jarak jauh untuk mengompensasi okupansi yang turun akibat penyebaran virus corona.

Selain itu, tiket pesawat juga berpotensi naik karena pemerintah akan menaikkan tarif batas atas (TBA) untuk tiket pesawat demi meminimalisir kerugian maskapai di tengah pandemi virus corona.


Ini baru darat dan udara. Belum kapal penyeberangan yang bisa saja tarifnya akan dinaikkan demi menjaga arus kas perusahaan di tengah pembatasan kapasitas maksimal yang hanya 50 persen dari total kursi yang ada.

Jika begini, masyarakat harus siap-siap merogoh kocek lebih dalam ketika hendak bepergian. Biaya untuk pelesiran bisa jadi melonjak saat new normal nanti.

Kalau tak hati-hati, masa new normal akan membuat kantong jebol. Padahal, masyarakat seharusnya banyak menabung di tengah ketidakpastian ekonomi akibat pandemi seperti ini.

Perencana Keuangan Zielts Consulting Ahmad Gozali mengatakan masyarakat memang harus siap dengan kehidupan serba baru. New normal, artinya siap-siap juga menyiapkan dana lebih untuk membiayai kebutuhan sehari-hari.

"New normal sama dengan new budget. Dampaknya pada setiap orang tapi tidak sama," ucap Ahmad kepada CNNIndonesia.com, dikutip Jumat (5/6).

Ia bilang masyarakat yang memiliki keharusan untuk melakukan perjalanan dinas tak perlu khawatir. Maklum, biaya perjalanan dinas biasanya memang ditanggung kantor 100 persen.

Namun, situasinya berbeda akan dialami masyarakat yang ingin berlibur atau mengunjungi kerabat di luar kota. Di sinilah, Ahmad menyatakan masyarakat harus pintar-pintar memilih prioritas agar pengeluaran tak lebih besar dari pendapatan per bulannya.

Tips yang ia sarankan, mengurangi frekuensi mengunjungi kerabat di luar kota atau memilih tempat liburan yang dekat agar biaya transportasi bisa ditekan.

"Tiket akan naik harganya. Bagi yang memiliki perjalanan dinas pasti ditanggung kantor. Tapi untuk yang memiliki hubungan jarak jauh akan berat. Frekuensinya yang diatur jadi lebih jarang," kata Ahmad.

Sementara, Ahmad juga mengingatkan agar masyarakat tak boros di masa pandemi virus corona. Untuk kehidupan sehari-sehari, ia menyarankan biaya transportasi tak sampai 60 persen dari gaji.

"Yang penting secara total biaya hidup dijaga sekitar 40 persen sampai 60 persen dari gaji. Itu sudah termasuk biaya transportasi, sewa rumah, makan, dan lain-lain," jelas Ahmad.

Sementara itu, Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia Andi Nugroho mengatakan masyarakat memang bisa memilih transportasi yang menyediakan tiket termurah dalam bepergian. Namun, risikonya waktu perjalanan akan lebih lama.

"Misalnya kapal laut, tapi ya akan lebih lama waktu tempuhnya," kata Andi.

Ia mengingatkan masyarakat jangan sampai berutang hanya demi mengikuti ego untuk jalan-jalan karena bosan saat new normal nanti. Kalau pun ingin liburan, Andi mengingatkan biaya yang dikeluarkan tetap disesuaikan dengan kemampuan.

"Jangan berutang, istilahnya harus bijak. Kalau memang tidak terlalu penting lebih baik ditunda perjalanannya. Utang menambah masalah, kewajibannya nanti tambah lagi per bulan," ungkap Andi.

Sementara itu, Perencana keuangan dari Finansia Consulting Eko Endarto menyatakan masyarakat juga bisa mengalihkan dananya yang biasa digunakan untuk nongkrong atau makan menjadi biaya transportasi untuk liburan. Dengan demikian, total pengeluaran nantinya tak terlalu bengkak.

[Gambas:Video CNN]
"Jadi sekarang hitung betul biaya transportasi kalau ingin bepergian. Kalau dulu-dulu mungkin transportasi hitungannya di belakang, sekarang harus benar-benar dihitung karena khawatirnya nanti tidak bisa kembali," ucap Eko.

Ia menambahkan bahwa masyarakat juga harus rajin mencari paket liburan atau bepergian dengan harga promo agar biaya yang dikeluarkan bisa lebih murah. Selain itu, jangan lupa untuk mencari alternatif hotel dan tempat makan ketika liburan atau bepergian demi mendapatkan harga paling menarik dan tidak menguras kantong.

"Jadi cari alternatif, cari promo sebagai kompensasi kenaikan tiket transportasi," pungkas Eko. (agt)