Banggar Sebut Defisit APBN Tembus 4,7 Persen Semester II 2020

CNN Indonesia | Rabu, 15/07/2020 15:22 WIB
Gedung perkantoran di kawasan MH Thamrin, Jakarta,Jumat, 8 Februari 2019. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi sepanjang 2018 sebesar 5,17 persen. Pertumbuhan ekonomi tersebut memang lebih tinggi dari capaian 2017 sebesar 5,07 persen, tetapi jauh di bawah target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dipatok 5,4 persen. CNNIndonesia/Safir Makki Banggar DPR RI menyatakan prognosis defisit APBN 2020 pada semester II diperkirakan tembus 4,76 persen terhadap PDB atau Rp781 triliun. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Wakil Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal menyatakan prognosis defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 pada semester II diperkirakan tembus 4,76 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) atau Rp781 triliun. Hal ini disebabkan oleh tingkat penerimaan masih akan jauh lebih rendah ketimbang belanja pemerintah.

Ia mengatakan prognosis pendapatan negara pada semester II 2020 sebesar Rp889,2 triliun atau 52,3 persen terhadap target APBN 2020 versi Perpres 72 tahun 2020 yang sebesar Rp1.699,9 triliun. Cucun menuturkan penerimaan negara masih bergantung dengan pembayaran pajak masyarakat dan dunia usaha.

"Faktor yang mempengaruhi penerimaan pajak semester II adalah aktivitas usaha yang mulai membaik dalam kondisi adaptasi kebiasaan baru dan upaya perluasan basis perpajakan," ucap Cucun dalam video conference, Rabu (15/7).


Sementara, belanja negara pada semester II 2020 diproyeksi sebesar Rp1.670,2 triliun. Rinciannya, belanja pemerintah pusat sebesar Rp1.306,7 triliun dan transfer ke daerah dan dana desa sebesar Rp363,5 triliun.

Dengan demikian, total pembiayaan anggaran yang dibutuhkan sepanjang semester II 2020 sebesar Rp622,6 triliun. Cucun menyatakan sepanjang tahun ini total pembiayaan anggaran diprediksi mencapai Rp1.038,7 triliun.

Sementara, Kementerian Keuangan mencatat defisit anggaran pada semester I 2020 sebesar Rp257,8 triliun. Defisit itu setara 1,57 persen terhadap PDB.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan penerimaan negara baru terkumpul Rp811,2 triliun sepanjang Januari hingga Juni 2020. Namun, realisasi belanja negara sudah mencapai Rp1.068,9 triliun.

Lebih lanjut ia menuturkan realisasi pendapatan negara yang masih rendah disebabkan pelemahan penerimaan dari kantong pajak. Hal ini karena banyak dunia usaha yang kesulitan keuangan akibat pandemi virus corona.

Lihat saja, penerimaan pajak sepanjang Januari-Juni 2020 hanya sebesar Rp624,9 triliun. Penerimaan itu menyusut 9,4 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, belanja negara terbilang cukup ekspansif. Tercatat, belanja pemerintah pusat sepanjang semester I 2020 sebesar Rp668,5 triliun dan transfer ke daerah dan dana desa sebesar Rp400,4 triliun.

[Gambas:Video CNN]



(aud/age)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK