BI Pangkas Suku Bunga Acuan Jadi 4 Persen

CNN Indonesia | Kamis, 16/07/2020 14:44 WIB
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. Dokumentasi: BI/Istimewa BI memangkas suku bunga acuan ke level 4 persen pada Juli ini untuk menjaga pemulihan ekonomi nasional. (Dokumentasi: BI/Istimewa).
Jakarta, CNN Indonesia --

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin ke level 4 persen pada Juli 2020. Begitu pula dengan tingkat suku bunga deposit facility dan bunga lending facility masing-masing turun 25 bps menjadi 3,25 persen dan 4,75 persen.

"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada tanggal 15-16 Juli 2020 memutuskan untuk menurunkan BI 7DRR sebesar 25 bps ke posisi 4 persen," ucap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers virtual, Kamis (16/7).

Perry menjelaskan keputusan ini diambil berdasarkan situasi ekonomi di global dan domestik. Ia bilang penurunan suku bunga acuan juga sejalan dengan perkiraan inflasi yang tetap rendah.


"Keputusan ini konsisten dengan perkiraan inflasi yang tetap rendah. Ini juga untuk penguatan bauran kebijakan ekonomi untuk mendukung pemulihan ekonomi dengan tetap menjaga inflasi," kata Perry.

Selain itu, penurunan juga dilakukan BI dengan mempertimbangkan posisi defisit transaksi berjalan yang masih rendah. Hal ini dipengaruhi oleh membaiknya kondisi neraca perdagangan Indonesia.

"Defisit transaksi berjalan membaik karena ekspor komoditas naik dan impor turun karena permintaan masih rendah di dalam negeri," tutur Perry.

Selain itu, dipengaruhi oleh aliran modal asing yang berlanjut masuk ke Indonesia. Aliran modal dipengaruhi meredanya ketidakpastian ekonomi global dan indikator ekonomi yang dipandang masih cukup baik.

[Gambas:Video CNN]

"Aliran modal asing net inflow sebesar US$10,2 miliar pada kuartal II 2020," kata Perry.

Selanjutnya, bank sentral juga mempertimbangkan kondisi nilai tukar rupiah. Secara rata-rata, BI mencatat mata uang Garuda terapresiasi 14,42 persen secara point-to-point.

"Meski masih terdepresiasi 4,83 persen secara year to date," tuturnya.

Menurut Perry, rupiah mampu terapresiasi pada bulan lalu karena aliran modal asing terus masuk ke Indonesia. Selain itu, defisit transaksi berjalan yang masih terkendali juga memberikan sentimen positif untuk rupiah.

(aud/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK