Jokowi Naikkan Target PCR, Anggaran Corona Diprediksi Bengkak

CNN Indonesia | Kamis, 16/07/2020 20:38 WIB
Calon penumpang commuterline menjalani tes Polymerase Chain Reaction (PCR) di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Selasa, 5 Mei 2020. Tes PCR untuk mencegah penyebaran mata rantai covid-19. CNNIndonesia/Safir Makki Target Presiden Jokowi meningkatkan kapasitas tes PCR menjadi 30 ribu per hari diprediksi bakal buat anggaran corona membengkak. (CNNIndonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Joko Widodo menargetkan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Virus Corona meningkatkan kapasitas tes polymerase chain reaction (PCR) hingga mencapai 30 ribu dalam sehari dari yang sebelumnya hanya 10 ribu.

Target tersebut melonjak seiring bertambahnya laboratorium yang ada di daerah serta pengadaan mobile lab PCR oleh pemerintah pusat.

Meski demikian, peningkatan tersebut diperkirakan bakal membuat anggaran untuk penanganan covid-19 membengkak. Sebab, biaya PCR test terbilang mahal terutama jika dibandingkan dengan rapid test.


Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia (PDS PatKLIn) Aryati mengatakan biaya tes PCR di Indonesia bervariasi mulai dari Rp1,5 juta hingga Rp2,5 juta. Bahkan alat PCR yang bisa mengeluarkan hasil tes swab hanya dalam 1 jam bisa mencapai Rp6 juta.

"Biaya beragam. Bahkan untuk alat PCR yang satu kali test bisa satu jam ada hasil dan bisa melihat sampai 20 patogen dari sampel lendir itu bisa sampai Rp6 juta harganya," ucap Ariyati kepada CNNIndonesia.com Kamis (16/7).

Namun, terang Aryati, pembengkakan anggaran sebetulnya tak semata disebabkan mahalnya harga alat PCR. Biaya yang ditanggung pemerintah bisa lebih mahal karena banyak rumah sakit yang belum siap mengoperasikan alat yang di-drop pemerintah pusat untuk melakukan swab test.

Ketidakmampuan RS tersebut antara lain karena tidak adanya fasilitas penunjang mulai dari alat pelindung diri saat pengambilan sampel lendir hingga ketiadaan tabung khusus untuk menaruh sampel tersebut. Belum lagi dibutuhkan tenaga tambahan untuk melakukan pengujian sampel lendir menggunakan metode PCR.

Untuk mencapai jumlah tes sebanyak 30 ribu kali dalam sehari, otomatis anggaran yang perlu dikeluarkan pemerintah harus ditambah agar rumah sakit atau laboratorium yang mendapat alat dari pemerintah pusat bisa berjalan.

"Semua itu butuh biaya. Artinya pemerintah tidak bisa hanya kasih alatnya terus RS diminta kerjakan. Banyak RS yang justru mandek setelah ada alatnya. Salah satunya pernah bilang ke saya kalau mereka butuh belanja Rp1 miliar buat bisa lakukan PCR di Rumah Sakit," terangnya.

Pemerintah sebelumnya mengaktifkan 78 laboratorium untuk mencapai kapasitas 10 ribu tes PCR dalam sehari. Meski demikian, lanjut Ariyati, kemampuan tes PCR pemerintah sebetulnya masih di bawah angkat tersebut. Karena itu, pemerintah melibatkan banyak rumah sakit dan laboratorium lain untuk melakukan pengetesan.

Dari seluruh rumah sakit dan laboratorium baik yang dimiliki pemerintah pusat, pemerintah daerah dan swasta, itu lah kapasitas tes PCR sebanyak 10 ribu per hari bisa dicapai.

"Sekarang kami sedang coba mapping berapa sih kemampuan laboratorium dan RS yang bergabung di asosiasi melakukan tes PCR dalam sehari, untuk melihat apakah target 30 ribu PCR sehari itu terpenuhi," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]



(hrf/age)