REKOMENDASI SAHAM

Hindari Risiko Buntung, Pilih Saham Ciamik di Musim Paceklik

Wella Andany, CNN Indonesia | Senin, 20/07/2020 07:29 WIB
Pialang memantau pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Mandiri Sekuritas, Jakarta, 8 Desember 2016. CNN indonesia/Adhi Wicaksono. Analis menilai investor perlu mengevaluasi portofolio saham. Analis menyarankan koleksi hanya saham yang tahan banting di tengah ancaman resesi. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Indonesia diprediksi menyusul Singapura masuk ke jurang resesi. Riset Morgan Stanley, lembaga keuangan internasional, pertumbuhan ekonomi RI pada kuartal kedua minus 5 persen, dilanjutkan minus 1,5 persen pada kuartal ketiga, dan 0,5 persen pada kuartal keempat.

Ancaman resesi tidak boleh dipandang sebelah mata. Meskipun, menurut perkiraan Presiden Jokowi kontraksi ekonomi pada kuartal kedua ini minus 4,3 persen, tidak separah riset Morgan Stanley. Pun begitu, jika ekonomi masih memble pada Juli, Agustus, hingga September ini, maka resesi ekonomi adalah keniscayaan.

Berkaca dari kondisi tersebut, Pendiri LBP Institute Lucky Bayu Purnomo memberi saran investor harus mengencangkan tali pinggang dengan kemungkinan resesi, termasuk mengevaluasi portofolio investasi. Sebab, dengan berpikir selangkah di depan, bisa jadi risiko buntung terhindari.


"Saat ini menjelang resesi, investor harus melakukan evaluasi terhadap posisi mereka di pasar. Jadi, kalau mereka dalam kondisi profit (untung), menurut saya mengevaluasi posisi dengan cara menurunkan penempatan portofolio di pasar dan menghindari risiko yang sudah dimiliki," katanya kepada CNNIndonesia.com, Senin (20/7).


Langkah pertama dalam meminimalisir risiko adalah dengan mengetahui sektor-sektor apa saja yang paling tahan banting saat resesi. Ia menyebutkan sektor aman koleksi ialah yang tergolong dalam industri dasar dan konsumsi (consumer goods).

Kedua sektor tersebut menjadi sektor pilihan sebab ketika berbagai kebutuhan lainnya disetop akibat lesunya perekonomian, konsumsi masih akan tetap jalan meskipun juga akan berdampak mengalami penurunan.

Dalam memilih saham-saham pun, investor harus jeli, sebab tak semua saham di sektor terkait dinyatakan aman koleksi.

Pilihlah saham-saham yang berkapitalisasi besar atau yang masuk ke dalam saham-saham lapis pertama, seperti PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).

"Dua sektor itu, industri dasar dan konsumsi bisa jadi pilihan untuk menghadapi skenario resesi karena sektor-sektor piihan itu yang jadi pilihan dasar dan paling mungkin bertahan secara fundamental karena kebutuhannya terjangkau," lanjut Lucky.

Sementara, ia menyarankan untuk menghindari berinvestasi di sektor berisiko tinggi seperti perbankan, otomotif, dan properti. Ketiga sektor tersebut dinilainya bakal paling terpukul akibat berubahnya prioritas masyarakat saat resesi.


Lucky mengatakan mayoritas saham di sektor otomotif dan properti akan suram, tak hanya selama resesi, namun juga hingga pemulihan perekonomian yang bisa memakan waktu 1 tahun-2 tahun ke depan. Karena, permintaan rumah dan kendaraan bermotor tak akan balik sebelum perekonomian kembali normal.


[Gambas:Video CNN]

Di sektor perbankan, ia melihat banyak masalah yang melilit industri keuangan jika resesi sampai terjadi. Selain lesunya permintaan produk perbankan, seperti kredit tempat tinggal (KPR dan KPA), kredit investasi (KI) dan kerja sama operasi (KSO) juga tak akan diminati.


Tak cuma itu, kredit macet pun menghantui. Maklum, di tengah tekanan ekonomi akibat pandemi corona, bank diminta mengucurkan relaksasi dan restrukturisasi kepada nasabah terdampak.

Ini akan berdampak pada rasio kredit macet (non performingloan/NPL) yang akan merangkak naik seiring dengan menjamurnya kesulitan bayar para debitur. Terutama, setelah keringanan restrukturisasi dicabut dan terurai seberapa besar kredit macet yang tak lagi diakui sebagai kredit lancar. 

Bank raksasa, seperti BCA dan Bank Mandiri pun disebutnya tak akan kebal. "Walau BCA, Mandiri, dan BRI kapitalisasi besar, tapi kalau likuiditas di pasar tidak ada pasti mereka mengalami penurunan margin, bunga deposito pasti menurun," jelas Lucky.

Antisipasi dari pemerintah sebetulnya telah dilakukan. Lucky menilai langkah BI yang kembali menurunkan suku bunga acuan dari 4,25 persen menjadi 4 persen sebagai sinyal penyelamatan sektor perbankan dari ancaman resesi.

Apalagi, resesi yang mengancam berpotensi berlangsung panjang akibat efek domino dari krisis kesehatan. Oleh karena itu, terutama untuk investor yang tak memiliki buffer (penyangga) jangka panjang, bersih-bersih profil investasi ada baiknya dilakukan sejak sekarang.


Namun, tidak berarti harus buru-buru menjual saham di harga rugi. Mengurangi risiko dapat dilakukan secara bertahap sambil memantau perkembangan rilis data perekonomian. Selain memindahkan ke saham defensif, investor bisa memindahkan dana ke instrumen safe haven, seperti obligasi jangka panjang.


Untuk pekan ini, Lucky merekomendasikan belanja saham-saham sektor farmasi, telekomunikasi, dan konsumsi. PT Indofarma (Persero) Tbk atau INAF direkomendasi beli di harga Rp1.100 dengan harga target Rp1.400.

PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk atau TLKM ditargetkan di level 4.000 dengan posisi beli 3.110 dan jual saat emiten menyentuh 2.875. Selanjutnya, PT XL Axiata Tbk (EXCL), beli di 2.280 dengan target 3.000.


Untuk sektor konsumsi, ia merekomendasikan beli UNVR dengan target jual di level Rp8.850 per saham. Lalu, rekomendasi beli untuk ICBP dengan target jual saat menyentuh posisi 9.575.


Sepaham, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Hariyanto Wijaya menyarankan investor untuk tetap main aman dan hanya memegang saham-saham di sektor konsumer, farmasi, dan telekomunikasi sepanjang 2020.


Pada 2020, ia optimistis sektor konsumer (terkecuali emiten rokok) memimpin pertumbuhan positif. Sarannya, pantau INDF, ICBP, UNVR, dan GGRM. Dengan tambahan saham tangguh lainnya, seperti BBCA, KLBF,  EXCL, and MIKA. 

"Kami optimis dengan sektor konsumer, terkecuali perusahaan rokok, akan mampu membukukan pertumbuhan pendapatan positif selama 2020," pungkasnya.

(bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK