BI Proyeksi Laju Ekonomi Kuartal II Minus 4,8 Persen

CNN Indonesia | Senin, 20/07/2020 13:57 WIB
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti usai dilantik oleh Ketua Mahkamah Agung, Muhammad Hatta Ali di Gedung Mahkamah Agung, Jakarta, Rabu, 7 Agustus 2019. CNN Indonesia/Bisma Septalisma BI memproyeksi laju ekonomi kuartal II minus 4,8 persen, jauh di atas proyeksi pemerintah yang sebesar 4,3 persen. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma).
Jakarta, CNN Indonesia --

Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Tanah Air akan berada di kisaran minus 4 persen sampai minus 4,8 persen pada kuartal II 2020 karena virus corona. Proyeksi itu jauh lebih rendah dari perkiraan sebelumnya dan melampau perkiraan pemerintah.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkirakan ekonomi minus 4,3 persen pada kuartal II 2020. Sementara, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan minus 3,5 persen sampai minus 5,1 persen dengan titik tengah minus 4,3 persen. 

"Indonesia tetap akan mengalami masa yang sulit, kuartal II 2020 Kemenkeu melihat (ekonomi akan) minus 4 persen, BI angkanya kurang lebih sama antara minus 4 persen sampai minus 4,8 persen dengan U shape recovery relatif lambat," ungkap Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam diskusi virtual BPPK Kemenkeu, Senin (20/7). 


Destry mengatakan pertimbangan ini diambil dari tingginya jumlah kasus positif baru virus corona di dalam negeri. Bahkan, Indonesia sempat mencetak rekor tertinggi pertambahan kasus sekitar 2.600 kasus per hari. 

"Kalau melihat perkembangan covid-19 di Indonesia, belum terlihat puncak, masih meningkat dan per hari di atas 1.000 kasus terus untuk kasus baru," katanya. 

Sementara, jumlah pemeriksaan kesehatan melalui rapid test dari pemerintah baru mencapai 400 tes per satu juta penduduk Indonesia. Menurutnya, rapid tes harus ditingkatkan menjadi 1.000 tes per satu juta penduduk. 

Hal ini, sambungnya, memberi kekhawatiran bagi pelaku pasar akan gelombang kedua virus corona di dunia, termasuk Indonesia.

Selanjutnya, akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, di mana sejumlah lembaga internasional memperkirakan ekonomi dunia dan negara-negara masih tertekan akibat pandemi corona. 

"Risiko masih sangat besar, ketakutan second wave (gelombang kedua) ada dan sudah terjadi di beberapa negara. Belum lagi, tensi geopolitik internasional antara AS dan China juga ada," tuturnya. 

Menurut Destry, untuk mengantisipasi rendahnya pertumbuhan ekonomi, maka perlu dilakukan berbagai kebijakan untuk menggenjot ekonomi. Salah satunya bisa dilakukan dengan meningkatkan ekspor ke China. 

"Meski impor menurun, ada blessing in disguise (berkah) karena ketika pandemi ekspor komoditas kita cukup baik, batu bara relatif baik, besi basa juga naik, dan itu ke China. China sekarang negara tujuan ekspor paling besar dan bisa dilihat ekonomi China masih tumbuh positif. Ini bisa ditingkatkan," jelasnya. 

Sementara di dalam negeri, menurutnya, Indonesia bisa memanfaatkan kondisi untuk memperoleh pertumbuhan dari sektor teknologi dan informasi.

Namun, memang, mau tidak mau, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tidak bisa terus menerus dilakukan. Dengan begitu, pembukaan aktivitas ekonomi menuju tatanan hidup baru (new normal) tetap perlu dilakukan.

(uli/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK