Korsel Tambah Panjang Daftar Negara yang Masuk Resesi

CNN Indonesia | Kamis, 23/07/2020 12:29 WIB
Ekonomi Korea Selatan minus 1,3 persen pada kuartal I 2020 dan minus 3,3 persen pada kuartal II 2020. Pertumbuhan minus membuat Korsel mengalami resesi. Ekonomi Korea Selatan masuk ke jurang resesi setelah dua kuartal berturut-turut mengalami kontraksi. Ilustrasi. (AFP/ED JONES).
Jakarta, CNN Indonesia --

Korea Selatan resmi masuk ke jurang resesi setelah ekonominya minus dua kuartal berturut-turut. Ekonomi Negeri Ginseng itu minus 1,3 persen pada kuartal I 2020 dan kembali minus 3,3 persen pada kuartal II 2020.

Resesi ini terjadi di Korea Selatan untuk yang pertama kalinya dalam 17 tahun terakhir. Penyebab utamanya adalah anjloknya ekspor di negara tersebut akibat pandemi virus corona.

Realita yang terjadi di Korea Selatan menambah daftar panjang negara yang terjerembab ke jurang resesi. Sebelum Korea Selatan, ada Singapura yang baru saja mengalami resesi.


Diketahui, dalam ilmu ekonomi dijelaskan bahwa suatu negara disebut resesi apabila ekonomi minus dalam dua kuartal berturut-turut.

Pada kuartal I 2020, pertumbuhan ekonomi Singapura tercatat minus 0,7 persen. Lalu, Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura (MTI) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Negeri Singa anjlok 41,2 persen pada kuartal II 2020.

Jauh sebelum Korea Selatan dan Singapura, terdapat beberapa negara lain yang sudah masuk ke jurang resesi di tengah pandemi virus corona. Dihimpun dari berbagai sumber, beberapa negara yang sudah mengalami resesi adalah Prancis, Jerman, Jepang, dan Hong Kong.

Ekonomi Prancis pada kuartal IV 2019 tercatat minus 0,1 persen, lalu ekonomi negara tersebut semakin terkontraksi pada kuartal I 2020 menjadi minus 6 persen. Alhasil, Prancis mengalami resesi pada kuartal I 2020.

[Gambas:Video CNN]

Lalu, ekonomi Jerman pada kuartal IV 2019 sebesar minus 0,1 persen dan kuartal I 2020 minus 2,2 persen. Sementara, ekonomi di Jerman pada kuartal IV 2019 sudah minus 1,9 persen tetapi kondisinya membaik pada kuartal I 2020 yang hanya minus 0,6 persen.

Kontraksi ekonomi juga terjadi di Hong Kong. Negara tersebut tercatat minus 3 persen pada kuartal IV 2019, lalu situasinya semakin parah pada kuartal I 2020 yang minus 8,9 persen.

Sementara itu, pemerintah Indonesia pesimistis situasi di dalam negeri akan baik-baik saja. Presiden Joko Widodo (Jokowi) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2020 minus 4,3 persen sampai 5 persen.

Jika proyeksi itu terealisasi dan berlanjut hingga kuartal III 2020, maka Indonesia juga akan menyusul Singapura, Korea Selatan, hingga Hong Kong ke jurang resesi.

Sebelumnya, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memperkirakan pertumbuhan ekonomi Tanah Air berada di kisaran minus 4 persen sampai minus 4,8 persen pada kuartal II 2020 karena virus corona. Hal ini seiring dengan peningkatan kasus virus corona yang masih tinggi di Indonesia.

"Kalau melihat perkembangan covid-19 di Indonesia, belum terlihat puncak, masih meningkat dan per hari di atas 1.000 kasus terus untuk kasus baru," pungkas Destry.

(aud/agt)